Ilustrasi

MINEWS, JAKARTA – Pada pembukaan perdagangan Kamis 18 Juli 2019, harga saham PT Garuda Indonesia (Persero) TBK (GIAA) tak bergerak atau stagnan di level Rp 410 per saham. Mengutip data dari RTI Business, pada penutupan pasar kemarin, harga sahamnya melemah 2,84% ke level 410 per saham. Bahkan 3 bln terakhir sudah turun 12,77%.

Pemicu terbarunya adalah larangan mengambil foto di pesawat, namun sudah diklarifikasi oleh pihak Garuda Indonesia sebagai upaya untuk menjamin kenyamanan dan privasi penumpang.

Bahkan Garuda Indonesia sempat melaporkan dua Youtuber terkait kasus kartu menu tulis tangan atas dugaan pelanggaran UU Informasi Transaksi Eletronik (ITE). Namun laporan tersebut bakal dicabut dan diselesaikan secara kekeluargaan.

Analis Panin Sekuritas William Hartanto menilai penurunan saham perusahaan maskapai pelat merah ini bukan semata-mata karena ada pemberitaan soal larangan mengambil foto di atas pesawat. “Itu hanya sentimen tambahan saja,” ujar William kepada Mata Indonesia News, Rabu sore 17 Juli 2019.

Ia kemudian mengatakan bahwa pemberitaan ini tak berpengaruh bagi kinerja operasional Garuda Indonesia dan tak mempengaruhi minat orang menggunakan layanan maskapai tersebut.

Sebenarnya, penurunan saham Garuda Indonesia merupakan efek domino dari buruknya kinerja keuangan sejak beberapa tahun belakangan hingga kejanggalan pada laporan keuangannya pada akhir 2018.

William menganjurkan untuk menghindari saham GIAA, lantaran sedang dalam trend yang terus menurun.

Sebagai informasi, kinerja Garuda Indonesia terus tertekan beberapa tahun terakhir. Pada 2014 misalnya, perusahaan merugi sebesar 370,04 juta dolar AS. Beruntung, pada 2015 mencatatkan laba sebesar 76,48 juta dolar AS. Tak bertahan lama, kinerja Garuda Indonesia justru merosot tajam pada 2016 menjadi hanya 8,06 juta dolar AS. Kemudian, perusahaan pun merugi pada 2017 sebesar 216,58 juta dolar AS.

Kerugian itu terus berlanjut sampai kuartal III 2018. Pada kuartal I misalnya, kerugian perusahaan sebesar 65,34 juta dolar AS dan akumulasi semester I tahun lalu kerugiannya 116,85 juta dolar AS. Lalu, sembilan bulan pertama 2018 tercatat rugi bersih 114,08 juta dolar AS, turun dibandingkan dengan periode yang sama pada 2017 sebesar 222,03 juta dolar AS.

Sementara sesuai laporan keuangan di akhir 2018, Garuda Indonesia tercatat membukukan laba bersih sebesar 809.846 dolar AS sepanjang 2018. Realisasi berbanding terbalik dengan raihan 2017 yang merugi sebesar 216,58 juta dolar AS.

Pendapatan perusahaan tahun lalu tercatat sebesar 3,53 miliar dolar. Angka itu naik dari 2017 yang sebesar 3,40 miliar dolar AS. Namun kenaikan pendapatan ini dipicu oleh salah satu transaksi dengan pihak Mahata Aero Teknologi sudah diakui sebagai pendapatan, padahal belum dibayar di akhir tahun lalu. Jika nominal dari kerja sama tersebut belum masuk sebagai pendapatan, perusahaan sebenarnya masih merugi 244,95 juta dolar AS.

Sementara pada kuartal I 2019, Garuda Indonesia mencatat laba bersih sebesar 20,48 juta dolar AS. Pada periode yang sama tahun lalu, perusahaan ini mencatatkan rugi bersih 65,34 juta dolar AS.

Laba bersih ini sejalan dengan pertumbuhan pendapatan. Pada kuartal I-2019, Garuda Indonesia membukukan pendapatan 1,09 miliar dolar AS, naik dari periode yang sama tahun lalu yang sebesar US$ 983 juta dolar AS.

(Krisantus de Rosari Binsasi)