4 Dampak Besar Corona bagi Ekonomi Indonesia Versi Dirjen Pajak
Ilustrasi ekonomi Indonesia (istimewa)

MATA INDONESIA, JAKARTA – Tenaga ahli utama bidang ekonomi Kantor Staf Presiden, Edy Priyono mengajak masyarakat tidak terlalu memikirkan pertumbuhan ekonomi kuartal III 2020. Jika negatif lagi bisa dipastikan bukan kiamat karena dia yakin angkanya jauh lebih kecil dari negara-negara lain.

“Sepintas, definisi resesi itu memberi kesan mengkhawatirkan. Namun kalaupun itu terjadi, bukan berarti sebuah kiamat. Rapor merah yang terjadi di Indonesia minusnya relatif kecil jika dibandingkan jiran Indonesia,” kata Eddy di Jakarta, Selasa 25 Agustus 2020.

Dia pun menyebut Singapura misalnya yang pada kuartal dua pertumbuhannya minus 42,9 persen, sementara Malaysia angka minus 17,1 persen.

Amerika Serikat juga mengalami pertumbuhan negatif yang cukup dalam yaitu mencapai minus 32,9 persen.

Edy percaya pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III lebih baik dari yang ke-II meski angka negatif sehingga menunjukkan perbaikan di kuartal IV 2020.

Maka, Kantor Staf Presiden sejak dua bulan lalu terus melakukan monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanaan program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) yang Rp 695 triliun.

Selain itu pemerintah saat ini fokus mendorong peningkatan konsumsi rumah tangga dan investasi agar kontraksi ekonomi tidak terlalu dalam.

Pemerintah akan memperjuangkan pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal III pada kisaran minus 2 hingga 0 persen.

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here