Nurul Ghufron
Wakil Ketua KPK Nurul Ghufron. (twitter.com)

MATA INDONESIA, JAKARTA – Pendidikan tinggi Indonesia cenderung merusak karakter baik seseorang karena menurut catatan Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Nurul Ghufron 64 persen pelaku korupsi adalah alumni perguruan tinggi.

Menurut Nurul alumni perguruan tinggi itu dari semua strata yaitu S-1, S-2 dan S-3. Maka Ghufron menegaskan semakin tinggi pendidikan seseorang justru tidak memiliki karakter baik.

Hal itu diungkapkan Ghufron pada acara Virtual Studium Generale dan Peluncuran Kuliah Online Pendidikan Antikorupsi” yang disiarkan akun Youtube KPK, Kamis 1 Oktober 2020.

“Ternyata pendidikan kita yang semestinya kian tinggi ilmu seseorang kian berkarakter maka fakta menunjukkan bahwa ternyata perilaku koruptif itu ternyata seiring, linier, sarjananya kian tinggi masternya kian tinggi ternyata perilaku koruptifnya juga semakin tinggi,” ujar Ghufron.

Ghufron mengungkapkan jumlah pelaku korupsi yang ditangani KPK dari 2004 hingga 2019 tertinggi pegawai swasta.

Itu wajar karena praktik suap mulainya dari pihak swasta kepada pemerintah. Sedangkan, pihak pemerintahan yang paling banyak disuap adalah anggota DPR dan DPRD, lalu eselon 1, 2 dan 3.

Selanjutnya baru wali kota maupun bupati dan wakilnya. Lalu, kepala lembaga pemerintahan, hakim dan gubernur.

Kerugian negara yang sudah teridentifikasi akibat korupsi sejak 2004 sampai saat ini mencapai sekitar Rp168 triliun.

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here