klm tabrakan dengan pan am
Tabrakan KLM dan Pan Am, tragedi kecelakaan pesawat terburuk. (wikipedia)

MATA INDONESIA, JAKARTA – “Apa yang dia lakukan! Dia akan membunuh kita semua!!!” Itulah kalimat terakhirnya yang diucapkan pilot Boeing 747 Pan America (Pan Am) di landasan pacu Bandar Udara Los Rodeos (Sekarang Bandar Undara Tenerife Utara) di Spanyol, 27 Maret 1977.

Sesaat setelah itu terjadilah tragedi yang paling mengerikan dan terburuk dalam dunia penerbangan, karena pesawat jumbo itu dihantam dengan kecepatan tinggi oleh jumbo lainnya dari Maskapai Belanda KLM. Sebanyak 583 orang tewas seketika pada musibah tersebut.

Banyaknya korban karena dahsyatnya akibat tabrakan itu sehingga menghancurkan pesawat KLM dengan nomor penerbangan 4805 itu.

Setidaknya ada tiga penyebab akibat kecelakaan tersebut yaitu padatnya bandara, kabut dan bahasa Inggris petugas menara yang tidak jelas.

Bandara Los Rodeos memang sebuah bandara kecil, tetapi tanggal itu dipaksa menampung banyak pesawat karena Bandara Las Palmas diancam bom yang sudah ditanam para teroris.

Itu sebabnya, Pan Am dengan nomor penerbangan 1736 yang membawa wisatawan dari Los Angeles and New York serta KLM yang membawa wisatawan Belanda harus dialihkan ke Los Rodeos bersama banyak pesawat lainnya. Bandara kecil itu menjadi super padat oleh pesawat-pesawat yang parkir hingga menghalangi satu-satunya landasan gelinding sehingga memaksa pesawat harus berjalan di landasan pacu saat akan berangkat.

Hal kedua adalah kabut yang sering datang tiba-tiba di bandara tersebut. Itulah yang terjadi pada 27 Maret 1977 pada pukul 4.40 sore waktu setempat.

KLM sudah mendapat clearence menuju taxi waya di ujung landasan pacu utama. Sedangkan jet Pan AM mengikutinya dari belakang dari menunggu di pinggir landasan sementara KLM berbalik arah untuk memulai lepas landas.

Tetapi kabut membuat pilot Pan Am tidak bisa melihat KLM dan tidak pindah ke posisi yang lebih aman.

Lalu, hal ketiga yang menyumbang kecelakaan dahsyat itu adalah bahasa Inggris petugas menara pengawas beraksen Spanyol. Ternyata kru KLM tidak sepenuhnya memahami bahasa Inggris pengawas tersebut dan langsung tancap gas untuk tinggal landas tanpa memberi kesempatan Pan Am mencapai sisi yang aman.

Maka dalam hitungan menit KLM menyongsong Pan Am dengan cepat di landasan yang sama hingga akhirnya pilot Pan Am berteriak seperti diungkapkan itu. Lalu seketika api pun membubung di langit Tenerife, Pulau Canary.

Musibah itu akhirnya membuat dunia penerbangan mengambil keputusan pentingnya menggunakan susunan kata standar dalam komunikasi radio. Prosedur ruang kemudi pun ditinjau kembali dan ikut serta menyumbang pendirian manajemen sumber daya awak sebagai bagian mendasar dari pelatihan pilot.

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here