Tan Malaka
Tan Malaka

MATA INDONESIA, JAKARTA – Meski sama-sama dari Sumatera Barat, namun Tan Malaka tidak bisa sepaham dengan Sutan Sjahrir yang ketika itu menjadi kepala Pemerintahan Indonesia, sehingga terjadilah kudeta pertama dan terakhir di Indonesia.

Pemicunya adalah ketidakpuasan Tan Malaka dan kawan-kawan seperti Achmad Soebardjo dan Sukarni terhadap sikap Sjahrir kepada Kerajaan Belanda.

Sjahrir hanya menuntut kedaulatan atas Sumatera, Jawa dan Madura, namun Tan Malaka menginginkan pengakuan kedaulatan penuh Belanda terhadap seluruh wilayah yang pernah dianeksasi sebagai Republik Indonesia.

Kudeta yang dilakukan Tan Malaka bukan menjatuhkan kekuasaan Presiden Soekarno, melainkan untuk meruntuhkan Kabinet Perdana Menteri (PM) Sutan Sjahrir. Mereka menilai Sjahrir terlalu lembek dalam menghadapi diplomasi Belanda.

Namun, Pemerintahan Sjahrir saat itu sudah mengetahuinya sehingga meringkus Kelompok Persatuan Perjuangan dan menjebloskan Tan Malaka dan kawan-kawan ke dalam jeruji besi 23 Maret 1946.

Simpatisan dan kolega Tan Malaka terutama yang berasal dari kalangan militer geram terhadap langkah Sjahrir itu. Mereka adalah Mayjen R.P. Sudarsono, Kolonel Sutarto, serta A.K. Yusuf.

Ketiga tentara itu, menculik PM Sjahrir ketika singgah di Surakarta. Penculikan itu terjadi pada 27 Juni 1946.

Selain Sjahrir, ikut diculik pula Menteri Kemakmuran Darmawan Mangunkusumo, dan beberapa tokoh kabinet lainnya. Pada tanggal 28 Juni 1946, Presiden Soekarno menyatakan keadaan bahaya di Indonesia.

Sehari kemudian, seluruh kekuasaan Sjahrir diserahkan kembali kepada Presiden Sukarno yang berpidato melalui radio menuntut pembebasan Sjahrir dan menteri-menterinya.

“Ini Presidenmu! Kalau engkau cinta kepada proklamasi dan Presidenmu, engkau cinta kepada perjuangan bangsa Indonesia yang insya Allah, de jure akan diakui oleh seluruh dunia. Tidak ada jalan kecuali. Hai, pemuda-pemudaku, kembalikanlah Perdana Menteri Sutan Sjahrir yang engkau tawan di Negara Republik Indonesia yang kita cintai. Sadarlah bahwa perjuangan tidak akan berhasil dengan cara-cara kekerasan!”

Setelah pidato itu, para penculik membebaskan Sjahrir. Pada 30 Juni dini hari, Sjahrir pun diantarkan ke Yogyakarta dan diserahkan pada para ajudan Soekarno.

Tanggal 3 Juli 1946, pelaku utama kudeta, Mayor Jenderal Sudarsono datang menghadap Presiden Soekarno. Ia beserta rekan-rekannya menyodorkan empat naskah berisi maklumat kepada presiden untuk ditandatangani.

Isi maklumat adalah Presiden memberhentikan Kabinet Sjahrir; presiden menyerahkan pimpinan politik, sosial, dan ekonomi kepada Dewan Pimpinan Politik; presiden mengangkat 10 anggota Dewan Pimpinan Politik (yang nama-namanya tercantum dalam naskah); dan presiden mengangkat 13 menteri negara (yang nama-namanya tercantum dalam naskah).

Ternyata Sukarno tidak menerima maklumat tersebut. Pada saat itu juga Mayor Jenderal Sudarsono beserta rekannya ditangkap.

Empat belas orang yang diduga terlibat dalam usaha kudeta diajukan ke depan Mahkamah Tentara Agung, tujuh terdakwa dibebaskan dari tuntutan. Dalam persidangan, selain Mayor Jenderal Sudarsono, Mr. Muhammad Yamin juga dipersalahkan memimpin percobaan kudeta.

Mereka kemudian dijatuhi hukuman empat tahun. Lima terdakwa lainnya dihukum 2-3 tahun.

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here