MATA INDONESIA, JAKARTA – Tak lagi hanya sebagai perantara dan pendukung suami sebagai terois, kini perempuan terlibat sebagai pelaku teror dan tak jarang membawa anak.

Pada awal kemunculan terorisme, perempuan hanya berperan sebagai perantara, pengelola data melalui jaringan internet, pengumpul dana dan pendorong jihad sang suami yang notabene seorang teroris. Namun, serangan bom bunuh diri di Surabaya pada 2018 silam yang dilakukan oleh sebuah keluarga menunjukkan bahwa perempuan secara aktif terlibat dalam aksi terorisme.

Sebelumnya, perempuan meletakkan dirinya sebagai pihak pendukung dan tidak terlibat langsung dalam aksi kekerasan. Namun, keterlibatan perempuan menjadi pelaku teror dalam aksi brutal mulai terkuak dengan terlibatnya Dian Yulia Novi sebagai pelaku bom panci di Bekasi pada tahun 2016.
Keterlibatan Dian Yulia mulai membuat banyak orang menimbang peran perempuan dalam gerakan radikal terorisme. Dalam kasus Dian Yulia, dia menjadi pelaku aktif namun sendirian, yang keburu ditangkap sebelum melancarkan serangan bom.

Namun, peristiwa bom bunuh diri di Surabaya yang dilakukan satu keluarga yang terdiri dari seorang ayah, ibu, serta melibatkan empat anak mereka, dua remaja lelaki, dan dua anak perempuan di bawah umur, telah membuat perubahan besar dalam pelibatan perempuan melakukan aksi teror.

Dalam peristiwa itu, perempuan menjadi pelaku aktif dan sangat mungkin memanipulasi anak-anak mereka untuk menjadi bagian dari serangan maut tersebut.
Prakarsa melancarkan aksi bom bunuh diri sekeluarga itu kemungkinan datang dari sang suami, Dita Oepriarto, yang merupakan salah satu tokoh organisasi Jemaah Anshorut Daulah (JAD). Namun, jika sang istri keberatan atau menolak pandangan dan prakarsa suaminya, situasinya akan berbeda.

Peristiwa itu menjadi pertimbangan yang tidak bisa lagi diabaikan dalam peran dan pengaruh perempuan sebagai ibu terhadap gerakan radikal. Dalam pendekatan keamanan, peran itu telah dikenali namun sering dianggap kecil, dibandingkan dengan perhatian kepada peran laki-laki sebagai pelaku teror.

Lies Marcoes dalam tulisannya di Indonesia at Melborne “Why do women join radical groups” menjelaskan keterlibatan perempuan dalam kelompok teroris. Pertama, perempuan adalah kelompok yang pada dasarnya memiliki keinginan, untuk tidak dikatakan punya agenda, ikut terlibat dalam apa yang diyakini sebagai perjuangan melawan kezaliman dan kemunkaran kepada Allah. Ini berkat kegiatan mereka sebagai peserta aktif pengajian-pengajian di kelompok-kelompok radikal. Mereka menjadi ‘penerjemah’ langsung dari konsep jihad dalam teori dan diubah menjadi praktik.

Namun, dalam dunia radikalisme terdapat pemilahan peran secara gender di mana jihad qital atau jihad kabir (maju ke medan tempur, jihad besar) hanya pantas dilakukan oleh laki-laki karena watak peperangan yang dianggap hanya cocok untuk kaum adam. Dengan dasar peran itu, perempuan menempatkan diri sebagai pendorong dan penguat iman suami.

Kedua, dalam konsep kaum radikal terdapat dua tingkatan jihad, yaitu jihad kecil dan jihad besar. Jihad besar merupakan puncak dari pengorbanan seorang manusia dengan pergi ke medan tempur dan mati sebagai syuhada, martir. Namun, karena terdapat pemilahan peran secara gender, otomatis hanya laki-laki yang punya tiket maju ke medan tempur, sementara istri hanya mendapatkan bagian jihad kecil, seperti menyiapkan suami atau anak laki-laki maju ke medan tempur.

Jihad kecil lainnya adalah mempunyai anak sebanyak-banyaknya, terutama anak laki-laki sebagai jundi yang kelak siap menjadi jundullah (tentara Tuhan). Dalam percakapan antar kaum radikal, memiliki jundi merupakan sebuah kebanggaan.

Ketiga, sebagaimana umumnya dalam organisasi keagamaan, secara umum peran perempuan dalam kelompok radikal sesungguhnya bukanlah hal yang utama dan sentral. Namun, peran mereka akan cepat diakui dan dihormati keberadaannya apabila mereka dapat menunjukkan keberanian dalam berjihad dengan mengorbankan jiwa dan raga.

Pengakuan peran itu merupakan salah satu kunci penting mengenali keterlibatan perempuan dalam kelompok radikal. Dorongan untuk menjadi terkenal atas keberaniannya melepas suaminya berjihad menjadi idaman kaum perempuan radikal.

Keberaniannya itu menjadi ‘martir agama Allah’ yang menunjukkan tingkat kesalehan seorang perempuan. Keterlibatan perempuan dalam aksi terorisme sebagai pelaku utama menimbulkan kegelisahan tersendiri bagi seluruh elemen masyarakat, bahkan dinilai sebagai sejarah baru di Indonesia.

Pakar terorisme Indonesia, Sidney Jones mengatakan, penelitiannya telah mengidentifikasi sekitar 40 perempuan Indonesia dan 100 anak-anak di bawah usia 15 tahun berada di Suriah, sebagian merasa terjebak oleh ajakan untuk berjihad dan sebagian lain memang berkesadaran penuh menjadi bagian dari ISIS.

Peristiwa bom bunuh diri di Surabaya itu merupakan salah satu contoh pemanfaatan peran strategis perempuan sebagai ibu untuk mentransmisikan ideologi radikal dan mempersiapkan anak dalam pelibatannya untuk aksi brutal. Padahal, selama ini perempuan senantiasa digambarkan sebagai makhluk yang mempunyai kelembutan dan cinta kasih seketika lenyap dengan keterlibatan mereka dalam aksi terorisme.

Munculnya pelaku dalam aksi teror yang melibatkan perempuan dan anak menegaskan bahwa konsep jihad tidak hanya diwajibkan untuk laki-laki, namun berlaku pula untuk perempuan. Propaganda atas nama agama menjadi salah satu hal yang mudah untuk menarik minat perempuan agar mau menjadi martir dalam aksi teror.

Peran perempuan dalam aksi teror tidak lagi sebagai perantara ataupun pelindung dari para suaminya yang juga teroris. Namun, bagaimana perempuan dipaksa dan dicuci otaknya untuk menjadi pelaku aktif dalam gerakan terorisme.

Reporter: Safira Ginanisa

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here