Pasangan pengantin mengenakan masker saat upacara pernikahan massal di Korea. (Foto: Jung Yeon-je / AFP)

MATA INDONESIA, NUNUKAN – Positif menggunakan narkoba dalam tes urine, 12 calon pengantin di Nunukan terpaksa harus menjalani rehabilitasi terlebih dahulu sebelum melakukan pernikahan.

Menurut Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, La Muati, peristiwa itu terjadi sepanjang tahun 2020.

Program itu telah dijalankan sejak dua tahun lalu dan tergolong sangat efektif mencegah peredaran narkotika di tengah-tengah masyarakat khususnya generasi muda yang belum menikah.

Menurut catatan BNN Nunukan, dari 12 orang itu terdiri dari sembilan lelaki dan tiga perempuan.

La Muati menegaskan mereka tetap bisa menikah tetapi harus menjalankan sejumlah sanksi. Pada program kerja sama BNN dengan Kementerian Agama itu, calon pengantin yang terbukti pengguna narkoba akan dilakukan rehabilitasi hingga sembuh.

Mereka juga akan dihadapkan kepada sanksi yang lebih berat apabila mengulangi perbuatannya.

Akibat sanksi tersebut La Muati mengakui banyak calon pengantin yang tidak mau mendaftarkan pernikahannya di KUA karena takut menjalani tes urine dan terpaksa melakukan pernikahan di bawah tangan atau siri.

Hanya saja, bagi pria dan wanita yang tidak mau mendaftarkan pernikahannya pada KUA atau nikah siri akan berdampak pada keturunannya atau anaknya kelak yang tidak bisa mendapatkan identitas diri.

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here