Wapres KH Ma'ruf Amin
Wapres KH Ma'ruf Amin

MATA INDONESIA, JAKARTA – Narasi teori konspirasi COVID-19 kerap diperbincangkan kelompok masyarakat akhir-akhir ini. Menurut Wakil Presiden Ma’ruf Amin, narasi itu dibangun dengan cara berpikir tekstual dan konservatif.

Hal itulah, kata dia, membentuk cara pandang yang sempit termasuk dalam memahami persoalan pandemi.

“Teori konspirasi menjadi angle utama mereka dalam melihat suatu persoalan yang muncul, seperti cara memandang pandemi COVID-19 yang terjadi saat ini,” kata Wapres Ma’ruf Amin di Jakarta, Minggu 10 Mei 2020.

Bahkan ada narasi yang cenderung mengatakan bahwa pandemi COVID-19 merupakan konspirasi untuk melemahkan umat Islam. Menurut dia, kelompok orang dengan cara berpikir tersebut akan menolak perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi karena dianggap tidak sesuai dengan teks-teks yang mereka pahami.

“Orang yang mempunyai cara berpikir tekstual biasa dikategorikan sebagai kelompok konservatif. Padahal kesalahan utamanya adalah berada pada cara berpikir mereka yang tekstualis dalam memahami, dan ini tidak sesuai dengan sabda Nabi Muhammad SAW,” katanya.

Pun ia menambahkan cara berpikir tekstual dapat terlihat di masa pandemi COVID-19, di mana fatwa MUI terkait kemudahan beribadah dianggap sebagai upaya untuk menjauhkan umat Islam dari Allah SWT.

Perspektif dari cara berpikir tekstual itulah yang menimbulkan kecurigaan yang berlebihan, khususnya terhadap kelompok-kelompok yang dianggapnya sebagai musuh, seperti warga non-Muslim. “Buktinya, secara sistematis (mereka beranggapan) umat Islam dijauhkan dari masjid. Mereka meyakini bahwa cara terbaik melawan COVID-19 adalah dengan berbondong-bondong ke masjid. Padahal saat ini berpotensi menularkan virus,” kata Wapres.

Untuk itu, Wapres meminta umat Islam untuk tidak menerapkan cara berpikir tekstual karena itu jauh dari roh keagamaan sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah SAW. Ma’ruf Amin mengingatkan bahwa potensi penularan COVID-19 tidak bisa hanya dipasrahkan kepada Allah SWT.

“Kita harus mengambil ikhtiar secara optimal atau kalau ulama mengatakan secara lahir berikhtiar, secara batin kita pasrah kepada Allah SWT,” ujarnya.

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here