Ustaz Abdul Somad
Ustaz Abdul Somad (Foto: Istimewa)

MINEWS, JAKARTA – Entah apa yang merasukimu Ustaz Abdul Somad (UAS) hingga kau ditolak berceramah di sejumlah tempat. Ya, banyak alasan penolakan tersebut terjadi lantaran UAS terlalu kontroversial dalam memberikan ceramah.

UAS sempat menjadi sorotan karena ceramahnya tentang salib yang menjadi simbol agama Kristen. Ceramah tersebut menjadi polemik karena diprotes oleh sekelompok orang yang tersinggung akan ucapannya.

Terbaru, UAS ditolak berceramah masyarakat Indonesia di Jerman. Sebelumnya ustaz kondang tersebut pernah ditolak untuk berceramah di Masjid Kampus Universitas Gajah Mada (UGM).

Namun tahukah kalian, bahwa selain di Jerman, UAS juga sempat ditolak berceramah di Keraton Yogyakarta dan di Kudus. Berikut 6 tempat yang menolak kehadiran UAS:

1.Keraton Yogyakarta
Sebuah surat dari Keraton Yogyakarta belum memberikan izin penggunaan Kagungan Ndalem Masjid Gedhe Keraton, Ndalem Pengulon, dan Alun-alun Utara sisi barat, Kota Yogyakarta, untuk acara Muslim United oleh Forum Ukhuwah Islamiyah pada 11-13 Oktober 2019 beredar di media sosial.

Surat tersebut ber-kop Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat Kawedanan Hageng Panitrapura dan ditandatangani oleh Pengageng Kawedanan Hageng Panitrapura, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Condrokirono. Putri Keraton Yogyakarta tersebut membenarkan surat yang beredar tersebut.

Dalam acara itu UAS didaulat sebagai salah satu penceramah. Selain itu, turut hadir Hanan Attaki, Adi Hidayat, Oemar Mita, Bachtiar Nasir, Felix Siauw, Arie Untung, dan lain sebagainya.

Condrokirono mengatakan keputusan dibuat atas pertimbangan keamanan saja. Mengingat situasi nasional sedang banyak demonstrasi.

2.UGM
UAS rencananya hendak mengisi kuliah umum di Masjid Kampus UGM, Sabtu 12 Oktober lalu. Namun, rencana itu gagal lantaran tidak mendapatkan izin dari pihak rektorat.
Ketua Takmir Masjid UGM, Mashuri Maschab, mengatakan ada sejumlah alasan rektorat membatalkan acara tersebut seperti karena ada tekanan dari alumni dan UAS dianggap kontroversial.

Namun, menurut Mashuri, ada satu alasan lain yang membuat UAS ditolak. UAS dikaitkan dengan pelantikan Jokowi sebagai presiden terpilih. “Jadi yang ingin saya tegaskan bahwa alasannya di samping tekanan karena si UAS itu orang kontroversial, dikaitkan tanggal 20 Oktober (hari pelantikan presiden),” kata Mashuri.

3.Kudus
UAS juga batal memimpin tabligh akbar bertajuk ‘Urip Iku Urup’ di Pondok Pesantren Anak Berkebutuhan Khusus (Ponpes-ABK) Al Achsaniyyah, Kudus Jawa Tengah, Selasa 8 Oktober 2019, pukul 18.00.

“Ya (dibatalkan) hanya demi kemaslahatan umat saja,” kata pimpinan Ponpes Al Achsaniyyah, KH Mohammad Faiq Afthonu. melalui pesan singkat kepada kumparan.

4.Jepara
Pada awal September lalu, UAS batal memberikan ceramah di Jepara lantaran ada penolakan dari GP Ansor yang diumumkan jauh-jauh hari melalui surat edaran.

“Surat dikeluarkan PC GP Ansor Jepara,” kata Ketua Ansor Jateng, Mudjib.

Dalam surat itu, UAS dinilai hanya menjadi boneka ormas yang sudah dibubarkan pemerintah, HTI. “Berkaitan dengan rencana kehadiran Ustaz Abdul Somad (UAS) di Pondok Pesantren Mayong, Kabupaten Jepara pada 1 September 2018 kami menilai bahwa UAS hanya dijadikan domplengan belaka oleh ormas uang telah dibubarkan pemerintah itu,” kutipan dari surat tersebut yang dibuat pada 21 Agustus lalu.

5.Hong Kong
UAS juga pernah mengaku dideportasi setelah mendarat di Hong Kong untuk mengisi ceramah bagi para TKI, Desember 2017. Saat itu, menurut UAS, ia baru mendarat di Bandara Hong Kong dan langsung dihadang sejumlah orang tak berseragam di pintu pesawat.

“Saya jelaskan. Di sana saya menduga mereka tertelan isu terorisme. Karena ada logo bintang dan tulisan Arab,” tulis Abdul Somad.

Orang tak dikenal itu lantas menginterogasi Abdul Somad setidaknya selama 30 menit. Selanjutnya, tanpa alasan yang jelas, orang-orang tak dikenal itu menjelaskan bahwa Hong Kong tak bisa menerima kehadiran UAS.

6.Jerman

Giliran sekelompok masyarakat Indonesia di Berlin yang menolak kedatangan ustaz kondang tersebut ke Jerman. Masyarakat Indonesia di Jerman tersebut menuliskan penolakan tersebut untuk menghindari adanya penyebaran ujaran kebencian yang dapat mempengaruhi ketentraman, kedamaian, dan kerharmonisan kehidupan beragama antara masyarakat Indonesia di Jerman.