Demonstrasi anti kudeta militer di Myanmar. (Foto: CNBC)

MATA INDONESIA, NAYPYIDAW –  Demonstrasi di Myanmar kembali ricuh. Polisi Myanmar menembaki para demonstran, setidaknya18 demonstran dilaporkan tewas pada Minggu (28/2), sekaligus menjadi hari paling berdarah dalam beberapa pekan demonstrasi yang menentang kudeta militer.

Salah satu demonstran yang tewas di Yangon adalah insinyur jaringan internet Nyi Nyi Aung Htet Naing, yang sehari sebelumnya telah memposting di Facebook tentang keprihatinannya atas tindakan keras yang semakin meningkat, kata petugas medis.

Sementara Tin New Yee –yang berprofesi sebagai guru, meninggal setelah polisi membubarkan protes guru dengan granat kejut, membuat kerumunan melarikan diri, kata sang putri dan sesama guru.

Polisi juga melemparkan granat setrum di luar sekolah kedokteran Yangon, menyebabkan dokter dan siswa berserakan mengalami luka-luka. Sebuah kelompok yang disebut Aliansi medis Whitecoat mengatakan lebih dari 50 staf medis telah ditangkap.

Sebanyak tiga orang tewas di Dawei, politisi Kyaw Min Htike mengatakan kepada Reuters. Dua orang tewas di kota kedua Mandalay, kata media Myanmar Now dan seorang warga. Sementara penduduk Sai Tun mengatakan seorang wanita ditembak di kepala.

Aparat kepolisian Myanmar melepaskan tembakan kepada para demonstran di berbagai bagian kota Yangon, setelah granat kejut, gas air mata, dan tembakan ke udara gagal membubarkan kerumunan.

Demonstran turut membantu demonstran lain yang mengalami luka. Seorang pria meninggal setelah dibawa ke rumah sakit dengan peluru di dadanya, kata seorang dokter yang meminta untuk tidak disebutkan namanya.

“Polisi dan pasukan militer menghadapi demonstrasi damai dengan menggunakan kekuatan yang mematikan – menurut informasi yang dapat dipercaya yang diterima oleh Kantor Hak Asasi Manusia PBB – telah menyebabkan sedikitnya 18 orang tewas dan lebih dari 30 luka-luka,” kata kantor ham PBB, melansir Reuters.

Myanmar berada dalam kekacauan sejak tentara merebut kekuasaan dan menahan pemimpin pemerintah terpilih Aung San Suu Kyi dan sebagian besar pemimpin senior yang berkuasa pada awal Februari.

Junta militer menuduh adanya kecurangan dalam pemilihan yang digelar pada November 2020, di mana Partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) menang secara telah, yakni sebesar 83 persen.

Kudeta yang dilakukan junta militer menarik ratusan ribu warga Myanmar untuk turun ke jalan. Kudeta pula yang membuat sejumlah negara Barat mengecam, bahkan memberikan sanksi, salah satunya adalah Amerika Serikat.

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here