Jokowi bertemu PM India Narendra Modi
Jokowi bertemu PM India Narendra Modi. (Setpres)

MATA INDONESIA, JAKARTA – Jika disimak dengan teliti, gerakan radikal di Indonesia secara geo-politik dan geo-ekonomi sengaja diciptakan terutama oleh negara-negara persemakmuran (commonwealth) yang berpusat di Inggris agar kita tidak berjaya secara ekonomi.

Direktur Eksekutif Jaringan Moderat Indonesia, Islah Bahrawi, menilai gerakan radikal di Asia Tenggara ini aneh, hanya bergerak di tiga negara saja yaitu Filipina, Thailand dan kita, Indonesia. Hampir setiap tahun kita disibukkan dengan urusan intoleransi, radikalisme hingga menjadi teror.

Radikalisme dan terorisme yang berkembang di Indonesia berasal dari Malaysia ketika Abu Bakar Ba’asyir mendirikan Kelompok Jamaah Islamiyah Asia Tenggara.

“Tetapi mereka mengekspor produk terornya ke Indonesia. Ba’asyir bahkan mengekspor tokoh-tokohnya dr Azahari dan Noordin M Top ke Indonesia melakukan pengeboman. Ini ada apa? Kok mereka seperti itu?” ujar Islah melalui video yang dilihat Senin 28 Desember 2020.

Menurut Islah, itu disengaja negara-negara persemakmuran agar Indonesia tidak bisa mengalahkan India. Sebab, Indonesia dan India kini tergolong emerging countries serta menjadi anggota G-20.

“Indonesia ini memang sengaja dibejek, diinjek supaya tidak muncul secara ekonomi,” kata lelaki yang aktif membangun kontra-narasi intoleransi dan radikalisme.

Mereka menggunakan “orang-orang dalam” Indonesia melakukan gerakan-gerakan yang menghambat kemajuan negeri kita. Ekonomi kita dibuat terus terkontraksi.

Itu bukan perkara sulit bagi negara persemakmuran yang dikomando Inggris karena Indonesia dikelilingi negara anggotanya seperti Papua Nugini, Vanuatu yang selalu mempermasalahkan Papua Merdeka, dan Australia yang membantu Timor-Timur melepaskan diri dari Indonesia.

Sudah barang tentu kita tidak boleh melupakan Singapura dan Malaysia. Selain mengekspor radikalisme mereka juga menghancurkan pemuda dan generasi produktif kita melalui narkoba.

Ratusan ton narkoba yang terjaring operasi aparat kita, jika ditelusuri seringkali diselundupkan dari Malaysia.

Bukan hanya negara-negara anggotanya, negara induk persemakmuran yaitu Inggris Raya juga aktif menggoyang Indonesia dengan mengekspor Hizbut Tahrir dalam bentuk HTI yang sudah dibubarkan Pemerintah Jokowi.

Urusan upaya memecah belah bangsa dan negara ini, menurut Islah sudah dilakukan sejak era Soekarno sampai sekarang dengan membiarkan bangsa kita sibuk dengan politisasi agama yang dikelola sedemikian rupa sehingga bisa menciptakan aksi teror yang menakutkan masyarakat.

Jika dilakukan pembiaran lama kelamaan akan membentuk organisasi-organisasi separatis seperti marak terjadi di era Orde Lama pimpinan Soekarno. Islah menegaskan tidak tertutup kemungkinan hal itu bisa terjadi sekarang.

Kalau Pemerintah Jokowi tidak segera menanggapinya serius bisa dipastikan Indonesia akan hancur sehancur-hancurnya membuat munculnya Kelompok Jihadis/Teroris Al Shabaab di Somalia, Boko Haram di Nigeria, Seleka di Republik Afrika Tengah yang menyebabkan negara-negara itu dirundung perang. Lalu kita akan terpecah seperti Sudan.

Apalagi paham intoleransi dan radikalisme ini sudah menyentuh aparatur negara seperti ASN, anggota Polri, TNI dan pegawai BUMN. Artinya waktu hancurnya negara yang kita cintai ini akan lebih cepat lagi karena mereka memiliki kemampuan mengelola teritorial dan akses terhadap senjata.

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here