Ilustrasi social distancing. (cebudailynews.inquirer.net)

MATA INDONESIA, JAKARTA – Untuk mencegah penyebaran virus corona covid-19 harus melakukan social distancing yang diterjemahkan begitu saja sebagai jarak sosial. Ternyata itu juga anjuran para pakar kesehatan untuk menghambat penyebaran virus yang sudah menjadi pandemi tersebut sehingga rumah sakit dan fasilitas kesehatan tidak kewalahan mengakhiri wabah tersebut.

Di lingkungan ahli epidemiologi gerakan social distancing itu sebagai upaya untuk meratakan kurva pandemi.

Tujuannya apa? Gerakan itu, ide sederhananya untuk membuat rumah sakit tidak dibanjiri orang-orang yang positif corona.

Sebab, penularannya antar manusia dengan cara droplet atau percikan yang keluar saat penderita corona bersin atau batuk.

Droplet itu maksimal akan terlontar hingga 1 meter, maka mereka yang tertular pasti ada di posisi lebih dekat dari jarak itu sehingga virus dapat dengan mudah memasuki mata, mulut atau hidung. Saat itulah orang sehat bakal tertular.

Penularan bisa juga terjadi jika droplet itu permukaan benda di sekitarnya lalu benda tersebut disentuh orang sehat, kemudian dia menyentuh bagian mata, mulut atau hidung sendiri, dipastikan dia tertular.

Namun, partikel droplet cukup besar sehingga tidak akan bertahan atau mengendap di udara dalam waktu yang lama.

Fakta itulah yang membuat perlu melakukan gerakan social distancing seperti tinggal di rumah atau memberi jarak lebih dari 1 meter dengan orang lain di tempat umum, harus dilakukan.

Hal itu, kata seorang peneliti kesehatan populasi dari Universitas Thomas Jefferson di Philadelphia, Drew Harris, mengibaratkan sistem perawatan kesehatan di dunia adalah MRT.

Di jam sibuk saat semua orang harus naik kereta pada waktu yang bersamaan pasti terjadi penumpukan di peron stasiun.

“Ketika tidak bisa menangani dengan baik, orang pada akhirnya tidak mendapat layanan yang diperlukan,” kata Harris seperti dilaporkan NPR.

Hal serupa juga diungkapkan dosen Fakultas Kedokteran Unpad lulus Harvard, Dokter Panji Hadisoemarto, M.P.H. Dia menilai menerapkan gerakan social distancing lebih diperlukan daripada lockdown atau penutupan wilayah.

“The sooner the better (semakin cepat semakin baik,” ujar Panji saat ditanya waktu yang tepat menggencarkan gerakan itu.

Sebab, semakin sedikit orang yang terinfeksi, kurva pandemi akan rata sehingga memberi kesempatan kepada rumah sakit maupun fasilitas kesehatan lainnya untuk ‘menghabisi’ wabah tersebut. Sebaliknya, dokter dan fasilitas kesehatan tidak akan bekerja optimal jika terlalu banyak orang yang terinfeksi sehingga pandemi tidak akan pernah berakhir.

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here