Dua perempuan Papua membawa noken (ich.unesco.org)
Dua perempuan Papua Indonesia membawa noken (ich.unesco.org)

MATA INDONESIA, JAKARTA – Tepat hari ini delapan tahun yang lalu, UNESCO menetapkan tas tradisional Papua dan Papua Barat, Noken dalam daftar Warisan Budaya Takbenda yang harus dijaga. Sebab, pembuat tas simbol perdamaian itu kini semakin sedikit.

Menurut UNESCO di laman https://ich.unesco.org/, faktor yang mengancam kelangsungan noken adalah kurangnya kesadaran, lemahnya transmisi tradisional, berkurangnya jumlah pengrajin, persaingan dari tas buatan pabrik, kesulitan memperoleh bahan baku dan pergeseran nilai budaya dari Noken itu sendiri.

Tas dari kulit kayu tertentu itu biasanya dibuat oleh kaum ibu yang disebut mama-mama di Papua.

Selain sebagai simbol perdamaian, Noken juga dinilai sebagai simbol kehidupan yang lebih baik serta kesuburan bagi masyarakat setempat.

Mereka yang membuatnya kebanyakan masyarakat Pegunungan Tengah Papua seperti suku Mee/Ekari, Damal, Suku Yali, Dani, Suku Lani dan Bauzi.

Yang menarik dari Noken ini adalah hanya orang Papua saja yang boleh membuatnya. Para wanita di Papua sejak kecil sudah harus belajar untuk membuat noken, karena membuat Noken dari dulu hingga saat ini dapat melambangkan kedewasaan pembuatnya.

Jika perempuan Papua belum bisa membuat Noken dia tidak akan dianggap dewasa. Maka, kemampuan membuat Noken menjadi syarat seorang perempuan Papua boleh menikah.

Noken terbuat dari kayu pohon Manduam, pohon Nawa atau anggrek hutan dan masih banyak lagi jenis pohon yang umum digunakan.

Masyarakat Papua biasanya menggunakan Noken untuk bermacam kegiatan, Noken yang berukuran besar (disebut Yatoo) dipakai untuk membawa barang seperti kayu bakar, tanaman hasil panen, barang-barang belanjaan, atau bahkan digunakan untuk menggendong anak.

Sedangkan yang berukuran sedang (disebut Gapagoo) untuk membawa barang-barang belanjaan dalam jumlah sedang, dan yang berukuran kecil (disebut mitutee) untuk membawa barang-barang pribadi.

Noken juga difungsikan sebagai hadiah kenang-kenangan untuk tamu yang biasanya baru pertama kali menginjakkan kaki di bumi Papua dan dipakai dalam upacara.

Membuat Noken cukup rumit karena menggunakan cara manual dan tidak menggunakan mesin. Kayu tersebut diolah, dikeringkan, dipilah-pilah serat-seratnya kemudian dipintal secara manual menjadi tali/benang.

Variasi warna pada Noken dibuat dari pewarna alami. Proses pembuatannya pada umumnya 1-2 minggu, namun yang berukuran besar mencapai 3 minggu bahkan sampai 2-3 bulan, tergantung prosesnya.

Di daerah Sauwadarek, Papua, masih bisa kita menemukan pembuatan Noken secara langsung. Harga Noken di sana relatif murah, antara Rp 25.000-Rp.50.000 per buah tergantung jenis dan ukurannya.

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here