Transisi
(Foto: Istimewa)

MATA INDONESIA, JAKARTA – Indonesia harus bekerja keras untuk menjalani transisi energi. Pasalnya, transisi energi tak bisa dilakukan sendirian.

Target 23 persen bauran energi terbarukan pada 2025 harus bisa dicapai dengan segala upaya dan juga keseriusan pemerintah.

Pendiri Medco Group Arifin Panigoro mengatakan, pemerintah harus realistis dalam menjalankan transisi energi di Indonesia.

“Saat ini kita tahapnya (transisi energi) masih mimpi. Karena negara lain sudah melakukannya sejak lama. Tapi kita tidak boleh terus bermimpi, karena target yang sudah ditetapkan itu harus bisa dicapai. Proses transisi energi ini tidak bisa dilakukan sendiri tapi harus bekerja sama dengan banyak pihak,” ujar Arifin, Selasa 9 Maret 2021.

Masih banyak yang salah dalam memahami transisi energi. Dia memberi contoh tentang energi matahari. Indonesia sebagai negara tropis diyakini mempunyai sumber yang berlimpah dalam sinar matahari.

Kualitas sinar matahari yang dimiliki Indonesia sebenarnya masih kalah dibandingkan kualitas sinar matahari yang dimiliki negara-negara yang mempunyai banyak gurun seperti Afrika Utara dan Amerika bagian selatan.

“Kalau kita memasang panel surya di negara-negara Afrika Utara atau Amerika bagian selatan seperti Arizona, itu bisa 2-3 kali lipat lebih kayak listriknya dibandingkan Indonesia. Untuk angin juga sama, kita memang punya daerah dengan angin yang bagus di Sulawesi tapi masalahnya konsumsi terbesar kan ada di Jawa. Bagaimana caranya agar bisa membangun PLTA di pulau Jawa,” katanya.

Arifin menilai, Indonesia harus realistis dalam melakukan tahapan transisi energi. Karena, negara lain sudah melakukan 10-15 tahun lebih dulu dari Indonesia. Contohnya perubahan dari batubara ke gas. Satu—satunya negara yang dianggap berhasil melakukan transisi itu adalah Afrika Selatan.

Pemerintah diminta memberikan insentif kepada industri energi terbarukan. Karena, investasi di sektor ini masih cukup mahal. Salah satu contoh insentif yang bisa diberikan adalah dengan memberikan harga yang berbeda dibandingkan energi fosil.

“PLTS di Bali itu bisa menghasilkan 40 MW, menurut saya itu masih termasuk mahal. Bandingkan dengan Vietnam yang PLTS nya bisa menghasilkan 4.000 MW. Jadi itulah kenapa saya bilang transisi energi di Indonesia baru pada tahap mimpi,” ungkapnya.

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here