Uang Tunai BNI Petugas mengatur tumpukan uang di cash center BNI, Kamis (29/12). Uang tunai yang disiapkan BNI untuk memenuhi kebutuhan selama masa liburan Natal 2016 dan Tahun Baru 2017 mencapai sekitar Rp 11 triliun. Investor Daily/setkab.go.id)

MATA INDONESIA, JAKARTA – Nilai tukar rupiah atas dolar AS ditutup melemah di awal pekan, 4 Mei 2020. Mengutip data Bloomberg, rupiah ditutup di level Rp 15.100 per dolar AS atau melemah 1,47 persen.

Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan, pelemahan rupiah dipengaruhi oleh laporan dari IHS Markit soal Purchasing Managers’ Index (PMI) atau indeks manufaktur Indonesia, yang berada di angka 27,5. Jumlah ini jauh menurun dibandingkan bulan sebelumnya yaitu 43,5. “Ini menjadi yang terendah sepanjang pencatatan PMI yang dimulai sejak April 2011,” ujar Ibrahim Senin sore.

Sebagai informasi, indeks dari Markit menggunakan angka 50 sebagai batas, di bawah 50 artinya kontraksi (menurun), sementara di atas berarti ekspansi. Data terbaru tersebut menunjukkan kontraksi sektor manufaktur Indonesia yang semakin dalam.

“Akibatnya kinerja rupiah semakin terpuruk. Menurut Markit kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dalam rangka memerangi Covid-19 menjadi penyebab kontraksi tersebut,” katanya.

Selain itu, laju rupiah juga dipengaruhi oleh rilis data dari Badan Pusat Statistik (BPS) pada April 2020. Di mana terjadi inflasi sebesar 0,08 persen. Adapun secara tahunan inflasi berada di 2,67 persen. Dari 90 kota, BPS melaporkan 39 kota mengalami inflasi dan 51 kota terjadi deflasi.

Rendahnya inflasi tersebut menjadi salah satu indikasi penurunan daya beli masyarakat yang menurun, akibat banyaknya Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) serta penerapan PSBB di beberapa wilayah Indonesia. “Virus corona terus menunjukkan dampak buruknya ke perekonomian,” ujar Ibrahim.

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here