Aung San Suu Kyi

MATA INDONESIA, INTERNASIONAL – Para staf di 70 rumah sakit dan departemen medis di 30 kota di Myanmar melakukan mogok massal pada Rabu (3/1), sebagai bagian dari protes kudeta militer yang menggulingkan pemimpin terpilih, Aung San Suu Kyi. Hal ini dikatakan oleh Gerakan Pembangkangan Sipil Myanmar yang baru dibentuk.

“Kami menolak untuk mematuhi berbagai perintah dari rezim militer tidak sah yang menunjukkan bahwa mereka tidak menghargai pasien kami yang malang,” kata pernyataan kelompok tersebut, melansir Reuters, Rabu, 3 Februari 2021.

Setidaknya empat dokter mengonfirmasi bahwa mereka telah berhenti bekerja. Mereka juga menuntut tentara Myanmar untuk segera kembali ke asrama.

“Saya ingin tentara kembali ke asrama mereka dan itulah mengapa kami para dokter tidak pergi ke rumah sakit. Saya belum dapat memastikan berapa lama saya akan melakukan teguran ini. Semua tergantung situasi,” kata seorang dokter berusia 29 tahun.

Militer Myanmar merebut kekuasaan karena menganggap pemilu yang diselenggarakan pada November tahun lalu diwarnai aksi kecurangan. Sebagaimana diketahui, Partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) pimpinan Aung San Suu Kyi memenangkan pemilu secara telak, 83%.

Kudeta tersebut menuai kecaman dari Amerika Serikat (AS) dan sejumlah negara Barat lainnya menyusul penahanan Aung San Suu Kyi dan puluhan pejabat lainnya oleh para jenderal yang berkuasa.

Untuk memperkuat kekuasaannya, junta militer meluncurkan dewan pemerintahan baru termasuk delapan jenderal yang dipimpin oleh panglima militer Jenderal Min Aung Hlaing. Hal ini mirip apparatus yang berkuasa di bawah junta sebelumnya, yang telah memerintah Myanmar selama hampir setengah abad hingga 2011.

Dalam aksi protes publik terbesar terhadap kudeta ini, orang-orang di pusat kota Yangon meneriakkan “evil be gone”. Mereka juga mengetuk pot logam sebagai isyarat tradisional untuk mengusir kejahatan atau karma buruk.

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here