Jokowi Temui Aung San Suu Kyi
Jokowi Temui Aung San Suu Kyi. (Foto: ist)

MATA INDONESIA, NAYPYIDAW – Duta Besar Indonesia untuk Myanmar, Iza Fadri menegaskan bahwa hubungan dagang antara kedua negara tetap berjalan, meskipun kondisi dalam negeri Myanmar sedang tak menentu.

“Hubungan ekonomi Indonesia dengan Myanmar saat ini tetap menunjukkan kondisi yang stabil. Tahun 2018, jumlah perdagangan Indonesia melebihi 1 miliar dolar AS dan kita surplus, sedangkan Myanmar hanya 179,4 juta dolar AS,” kata Iza Fadri pada market Review IDX Channel, Kamis, 4 Maret 2021.

Indonesia termasuk salah satu negara yang memiliki nilai dagang tinggi di Myanmar. Dalam urutan di negara ASEAN, Indonesia berada di urutan keempat, setelah Singapura, Thailand, dan Malaysia.

Sedangkan untuk investasi, Iza mengatakan ada sejumlah kendala, khususnya soal perizinan lantaran politik dalam negeri Myanmar yang tengah bergejolak. Hal ini dialami oleh perusahaan farmasi PT. Kalbe Farma Tbk yang tengah menunggu untuk melakukan uji klinis.

“Ini menjadi permasalahan karena dengan situasi pemerintahan Myanmar yang sedang bergejolak, izin belum didapat,” lanjut Iza.

Kendati demikian, Iza menambahkan bahwa hubungan dagang kedua negara memiliki prospek positif. Hal ini dibuktikan dengan pertumbuhan ekonomi di Myanmar di tengah masa pendemi.

“Sejak 2010 pertumbuhan ekonomi di Myanmar cukup stabil dan perlu diketahui pada saat pandemi COVID-19, mereka masih positif 2 persen untuk pertumbuhan ekonominya. Jadi kalau kita lihat, prospek ini termasuk sesuatu yang kita bisa perhitungkan untuk melakukan investasi dan perdagangan di Myanmar,” ucap Iza.

Pengambilalihan kekuasaan oleh junta militer dan ditangkapnya pemimpin de facto Myanmar, Aung San Suu Kyi beserta sejumlah pemimpin senior dari partai yang berkuasa, membuat warga Myanmar turun ke jalan melakukan aksi protes.

Polisi dan tentara dikerahkan oleh pemerintah junta militer demi menekan warga untuk tidak turun ke jalan. Namun upaya tersebut menemui kegagalan, sekalipun aparat keamanan menggunakan tindakan represif terhadap para demonstran.

Pada Rabu (3/3), setidaknya 38 demonstran di Myanmar dilaporkan tewas saat militer mencoba meredamkan aksi unjuk rasa di sejumlah kota. Ini menjadi hari paling kejam sejak demonstrasi menentang kudeta militer meletus pada awal bulan lalu.

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here