Presiden AS, Joe Biden. (Foto: AP/Evan Vucci)

MATA INDONESIA, JAKARTA – Salah satu keputusan yang diambil Joe Biden di hari kedua pemerintahannya bekerja adalah bersiap mengadakan persidangan teroris seorang Indonesia yang dinilai berbahaya, Encep Nurjaman bersama dua warga Malaysia Mohammed Nazir Bin Lep dan Mohammed Farik Bin Amin.

Mereka sudah menghabiskan hidupnya di penjara militer AS, Guantanamo selama 14 tahun dan Pemerintah Amerika Serikat (AS) sebelum ini seolah tidak peduli, terutama Donald Trump.

Encep yang sering menggunakan nama Hambali bersama dua rekannya itu ditangkap di Thailand tahun 2003 karena menjadi tersangka karena dituding bertanggung jawab terhadap pemboman di Bali dan Jakarta pada 2002 dan 2003.

Aksi yang mereka rancang dan laksanakan tersebut telah membuat ratusan orang tewas seketika dan puluhan lainnya terluka hingga cacat seumur hidup.

“Tuduhan kepada mereka meliputi persekongkolan, pembunuhan, percobaan pembunuhan, dengan sengaja menyebabkan luka tubuh yang serius, terorisme, menyerang warga sipil, menyerang objek sipil, perusakan properti, dan aksesori setelah fakta, semuanya melanggar hukum perang,” kata Pentagon dalam pernyataan Kamis 21 Januari 2021.

Seperti dilansir DW Indonesia, saat menjadi wakil presiden Barack Obama, Biden berusaha menutup penjara Guantanamo namun gagal.

Sementara Pemerintahan Donald Trump dinilai tidak menunjukkan minat menyelesaikan masalah Guantanamo.

Pada tahun 2016 jaksa menolak membebaskan Hambali dari Guantanamo karena dia masih merupakan “ancaman signifikan bagi keamanan Amerika Serikat.”

Saat di puncak perang melawan teroris, Washington berhasil menahan sekitar 780 orang di penjara itu. Setelah dibereskan Pemerintahan Obama, yang tersisa hanya 40 orang termasuk Encep dari Indonesia tersebut.

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here