Gajah mati di Area Perkebunan di Jambi
Gajah mati di Area Perkebunan di Jambi

MINEWS JAKARTA-Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Jambi memastikan bahwa penemuan gajah yang mati di area WCA yang juga merupakan bagian dari area konsesi LAJ di Desa Semambu, Kecamatan Sumay, Kabupaten Tebo, Provinsi Jambi, dikarenakan mati secara alami bukan disebabkan racun atau bahan kimia sejenisnya.

“Berdasarkan hasil lidik dan observasi dan olah TKP hingga uji lab, di dapati hasilnya kematian gajah bukan karena faktor unsur kimia,” ujar Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Jambi Rahmad Saleh, saat dimintai keterangannya oleh MINEWS.ID.

Ia mengatakan sebelumnya sudah mengirimkan tim investigasi beserta dokter hewan untuk melakukan pemeriksaan nekropsi terhadap gajah tersebut.

Sedangkan untuk penanganannya, agar tidak terjadi hal serupa, pihaknya secara terus mensosialisasikan secara terus menerus dengan masyarakat dan publik terkait habitat ruang gajah dan manusia yang sudah overlap.

“Kami akan memberikan pemahaman masyarakat agar kedepannya masyarakat dan gajah bisa hidup berdampingan dengan pembagian ruang,” katanya.

Saat ini, KSDA Jambi sedang menginisiasi program Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) sebagai koridor Gajah Sumatera di kawasan lanskap Bukit Tiga puluh dan program WCA merupakan bagian dari koridor gajah/KEE yang diusulkan oleh BKSDA Provinsi Jambi.

Diketahui, Lokasi WCA terletak berbatasan dengan Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT) dandiapit oleh dua blok konsesi restorasi ekosistem PT Alam Bukit Tiga puluh (ABT). WCA merupakan proyek jangka panjang LAJ bekerjasamad enganWWF-Indonesia yang secara efektif mulai dikembangkan sejak 2018.

LAJ mengalokasikan sebagian area konsesi tanaman hutan industrinya sebagai wilayah jelajah bagi Gajah Sumatera yang saat ini populasinya diperkirakan hanya tersisa 120-150 individu dilanskap Bukit Tigapuluh.

Direktur LAJ Meizani Irmadhiany mengatakan WCA merupakan salah satu komitmen LAJ dalam upaya konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistem. Tim Ranger WCA setiap hari rutin melakukan patrol serta melakukan sosialisasi kepada warga perambah untuk mencegah terjadinya konflik antara manusia dan gajah.

“WCA menjadi solusi penting dalam upaya mengembalikan habitat Gajah Sumatera yang saat ini menghadapi tantangan dan ancaman deforestasi dan kegiatan ilegal lainnya,” katanya.