Ferdinand-Hutahaean
Ferdinand Hutahaean

MATA INDONESIA, JAKARTA – Temuan Tim Penyelidikan dan Pemantauan Komnas HAM terkait kematian Laskar Front Pembela Islam (FPI) dinilai sebagai upaya pembelaan diri personel polisi.

Hal ini disampaikan Ferdinand Hutahaean, mantan politikus Partai Demokrat dalam cuitannya di akun Twitter, Sabtu 9 Januari 2021. Ia menganggap wajar Polisi memperlakukan laskar pengawal Rizieq Shihab. ”Tuduhan dugaan pelanggaran HAM terhadap empat orang anggota FPI itu lucu bila dirunut pada paparan sebelumnya dan bukti-bukti yang disampaikan,” ujar Ferdinand.

Menurut Ferdinand, tidak mungkin polisi memperlakukan keempat orang tersebut seperti pacar disayang-sayang. ”Bila ada upaya perlawanan kepada polisi. Itu bukan pelanggaran HAM tetapi upaya bela diri,” katanya.

Ferdinand memprediksi bahwa situasi ketika terjadi penembakan terhadap empat Laskar FPI di dalam mobil pasti tidak biasa-biasa saja. Dia memperkirakan kondisi saat itu pasti menegangkan, ada perasaan khawatir atau was-was serta dengan kewaspadaan tinggi terhadap segala kemungkinan. ”Jadi tidak mungkin polisi dalam kondisi genting seperti itu bisa memperlakukan para Laskar FPI yang baru saja baku tembak dengan prosedur yang baik-baik saja seperti disayang-sayang,” ucapnya.

Namanya tegang, genting, pikiran petugas pasti melindungi diri dengan segala apa yang dia miliki. ”Jadi itu bukan pelanggaran HAM tetapi membela diri,” kata pria asal Sumatera Utara ini.

Komisioner Komnas HAM Choirul Anam sebelumnya menyampaikan rekomendasi agar kasus kematian empat laskar FPI bisa dibawa ke pengadilan.

Sebab, kata Anam, kasus kematian empat laskar itu masuk kategori pelanggaran HAM. ”Peristiwa tewasnya empat orang laskar FPI merupakan kategori pelanggaran HAM,” kata Anam dalam konferensi pers secara daring, Jumat 8 Januari 2021.

Oleh karenanya Komnas HAM merekomendasikan kasus ini harus dilanjutkan ke penegakan hukum dengan mekanisme pengadilan pidana guna mendapatkan kebenaran materiil lebih lengkap dan menegakan keadilan. “Jadi ini tidak boleh dilakukan dengan internal,” kata Anam.

Anam juga mengatakan empat anggota laskar khusus tersebut ditembak mati di dalam mobil petugas saat dalam perjalanan dari KM 50 ke atas menuju Polda Metro Jaya. Menurut Anam, polisi mengklaim para laskar melakukan perlawanan di dalam mobil. Kemudian empat laskar FPI ditembak atas klaim polisi demi keselamatan. ”Dengan informasi hanya dari petugas kepolisian semata, bahwa terlebih dahulu telah terjadi upaya melawan petugas yang mengancam keselamatan diri, sehingga diambil tindakan tegas dan terukur,” ujar dia.

Peristiwa baku tembak itu diketahui terjadi sebelum memasuki KM 50 Tol Jakarta-Cikampek, Karawang, pada 7 Desember 2020 itu. “Bahwa dua orang itu meninggal karena peristiwa saling serempet dan saling serang antara petugas dengan laskar FPI dengan menggunakan senjata api,” katanya.

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here