Supermarket Giant

MINEWS, JAKARTA – Giant berencana menutup enam gerainya. Jaringan ritel milik PT Hero Supermarket Tbk (kode saham HERO) kabarnya bakal tutup pada 28 Juli 2019 nanti.

Giant Express Mampang disebut sebagai salah satu dari enam gerai Giant yang segera tutup. Gerai lain yang juga dikabarkan akan tutup yaitu Giant Express Cinere Mall, Giant Express Pondok Timur, Giant Extra Jatimakmur, Giant Extra Mitra 10 Cibubur, dan Giant Extra Wisma Asri.

Analis Panin Sekuritas William Hartanto menjelaskan bahwa rencana penutupan enam gerai Giant bisa menjadi solusi untuk jangka pendek. Sementara untuk jangka panjang, ia bilang perlu melihat apa yang akan dilakukan emiten setelah penutupan gerai tersebut.

“Kalau untuk melakukan ekspansi, saya pikir akan bagus,” ujarnya, Selasa 25 Juni 2019.

Kemungkinan besar tren bisnis HERO di masa mendatang akan bertumpu pada segmen non-makanan. Hal ini tampak dari rencana emiten ritel ini yang bakal menambah gerai IKEA. Bahkan akan ada satu gerai Giant yang bakal diganti menjadi IKEA.

Patrik Lindvall, Presiden Direktur HERO pernah mengemukakan hal ini. Ia pernah bilang, IKEA akan fokus pada strategi untuk meningkatkan aksesibilitas dan kenyamanan dengan mengembangkan bisnis online-nya dan menambah jaringan toko.

Selain proyek pembangunan toko baru yang sedang berlangsung di Jakarta Garden City dan Kota Baru Parahyangan Bandung yang bakal dibuka di akhir 2020 nanti.

“IKEA juga akan mengubah satu gerai hypermarket Giant menjadi toko IKEA,” kata Lindvall pada laman keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia, 29 April 2019 lalu.

Menanggapi hal ini, William bilang rencana ekspansi HERO tersebut, bergantung pada seberapa besar peran IKEA terhadap kinerja keuangan HERO selama ini.

Mengutip laporan keuangan HERO pada periode tiga bulan pertama tahun 2019 ini, emiten ritel ini mencatatkan pendapatan sebesar Rp 3,06 triliun atau cuma naik tipis 0,5 persen dibanding periode yang sama di tahun sebelumnya yang sebesar Rp 3,04 triliun.

Beban pokok pendapatan juga naik tipis 0,4 persen dari Rp 2,18 triliun di kuartal I 2018 menuju Rp 2,19 triliun pada kuartal I 2019.

Dari segmen non-makanan, HERO memang membukukan pertumbuhan penjualan sampai 21% menjadi Rp 715 miliar. Namun, masih sulit menutup penurunan 5% di segmen makanan yang nilainya mencapai Rp 2,345 triliun.

Penjualan makanan 5% lebih rendah menjadi Rp 2.345 miliar, dipengaruhi oleh peluncuran rencana konsolidasi toko yang dirancang untuk meningkatkan produktivitas dan profitabilitas dari waktu ke waktu.

Bisnis makanan mencatat kerugian operasi sebesar Rp 64 miliar di luar biaya-biaya Perseroan yang tidak dialokasikan, dibandingkan dengan Rp 87 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Sementara di segmen non-makanan, Guardian dan IKEA menjadi tumpuan harapan. “Laba usaha sebesar Rp 79 miliar di luar biaya-biaya Perseroan yang tidak dialokasikan, dibandingkan dengan Rp 87 miliar tahun lalu,” sebut Lindvall.

Alhasil HERO masih menderita rugi bersih sebesar Rp 3,52 miliar. Atau sedikit lebih baik dibanding rugi bersih di kuartal I 2018 yang sebesar Rp 4,13 miliar. Total aset HERO pun tercatat turun 3,3 persen dari Rp 6,27 triliun menjadi Rp 6,06 triliun di periode tiga bulan pertama tahun ini.

Sementara dari sisi saham, William mengungkapkan bahwa HERO bukan saham yang likuid. Jadi penutupan gerai ini, kemungkinan tidak berpengaruh pada di sahamnya.

Ia berkata, secara teknikal malah masih sideways. Target harga untuk jangka pendek di kisaran Rp 710 hingga Rp 1.000 per saham.

“Boleh saja dikoleksi selama harga di atas Rp 710 per saham,” tambah dia.

Sesuai data dari RTI Business pada penutupan perdagangan hari ini, harga saham HERO masih berada pada posisi Rp 870 per saham atau naik 2,35 persen dari penutupan hari sebelumnya di level Rp 850 per saham. (Krisantus de Rosari Binsasi)