Rupiah Diprediksi Balik Menguat, Jika BI Tahan Suku Bunga Acuan
Ilustrasi Rupiah (istimewa)

MATA INDONESIA, JAKARTA – Nilai tukar rupiah atas dolar AS diramalkan akan melanjutkan pelemahan di awal pekan, 6 Januari 2020. Jumat lalu, mata uang garuda ditutup melemah 0,30 persen di level Rp 13.930 per dolar AS.

Direktur Garuda Berjangka Ibrahim meramalkan laju mata uang garuda akan bergerak di kisaran Rp 13.895 hingga Rp 13.980 per dolar AS.

Ia mengatakan pelemahan rupiah akan disebabkan oleh sejumlah sentimen dari luar negeri, di antaranya sebagai berikut.

Pertama, soal serangan AS kepada Iran. Sebelumnya, serangan pasukan AS ke Irak mengakibatkan Mayor Jenderal Iran Qassem Soleimani dan komandan milisi Irak Abu Mahdi al-Muhandis terbunuh.

“Hal tersebut mengakibatkan harga minyak mentah dunia kembali menguat di awal tahun, bahkan menyentuh level tertingginya di US 63.83 per barel,” ujarnya Jumat lalu.

Kata Ibrahim, saat ini Indonesia merupakan negara net importir minyak di kawasan Asia Tenggara. Sehingga menurutnya, hal tersebut akan memberi tekanan terhadap mata uang garuda. Pasalnya, saat harga minyak naik, biaya impor komoditas akan ikut melejit.

“Ketika semakin banyak devisa yang ‘dibakar’ untuk impor minyak, rupiah akan menjadi korban,” katanya.

Kedua, soal damai dagang AS dan China. Presiden AS Donald Trump mengatakan, Beijing dan Washington akan secara resmi menandatangani kesepakatan perdagangan fase satu awal pekan ini.

“Pengumuman itu menghilangkan banyak ketidakpastian yang masih tersisa tentang apa yang disebut kesepakatan ‘fase-1’ dan juga memperkuat harapan bahwa kebutuhan Trump untuk pemilihan kembali akan menjaga hubungan perdagangan dengan China,” ujarnya.

Ketiga, soal upaya Bank sentral China kembali melonggarkan kebijakan moneternya. Bank tersebut memotong rasio persyaratan cadangan.

“Hal ini untuk mengangkat ekonominya yang di tahun sebelumnya akibat dampak dari perang dagang antara AS dan China yang cukup lama,” katanya.