rupiah
Ilustrasi rupiah

MINEWS, JAKARTA – Laju rupiah Kamis ini, 21 November 2019 diramalkan akan kembali terkapar di hadapan dolar AS. Kemarin, Rupiah ditutup di posisi Rp 14.095 per dolar AS atau turun tipis 0,04 persen.

Direktur PT Garuda Berjangka Ibrahim memperkirakan kisaran pelemahan rupiah hari ini akan bergerak dari posisi Rp 14.075 hingga Rp 14.130 per dolar AS.
Ia mengatakan, pelemahan mata uang garuda hari ini masih akan dibayangi oleh sejumlah sentimen global di antaranya sebagai berikut.

Pertama, kembali memanasnya tensi antara AS dan Cina. Presiden AS Donald Trump malah yang mengatakan bahwa ia mungkin akan menaikkan tarif lebih jauh, jika perundingannya gagal. Ketegangan kedua belah pihak kian meningkat lebih jauh, setelah Senat AS mengeluarkan dua RUU terkait Hong Kong yang mendukung para pemrotes di kota itu.

“Di sisi lain, juru bicara kementerian luar negeri Cina menyebut keputusan (senat AS) itu sebagai bentuk campur tangan terang-terangan dalam urusan dalam negeri Cina. AS akan menghadapi “konsekuensi negatif” jika itu tetap ada. Bahkan pihak Cina kian pesimis untuk mencapai kesepakatan damai dagang dengan AS,” katanya sore ini.

Kedua, situasi di Hong Kong menjadi fokus, ketika Senat AS dengan suara bulat mengeluarkan dua undang-undang (UU) Hak Asasi Manusia dan Demokrasi Hong Kong yang mendukung para pemrotes Hong Kong. Hal ini menuai kritik dari kementerian luar negeri Cina.

“Dua UU tersebut dianggap mengganggu urusan dalam negeri Cina.Bahkan Cina sangat mengutuk dan dengan tegas menentang tindakan campur tangan AS tersebut,” ujar Ibrahim.

Ketiga, Cina memangkas suku bunga pinjaman baru pada hari Rabu ini, seperti yang diharapkan investor. Negara tirai bamboo ini terus bergerak untuk menurunkan biaya pendanaan guna menopang perekonomian yang dirugikan oleh perlambatan permintaan dan tarif perdagangan.

Keempat, soal suku bunga The Fed (Bank sentral AS). Rilis risalah Fed untuk periode Oktober merupakan data informasi yang paling dinantikan investor. The Fed diperkirakan akan bersikap menahan suku bunganya lantaran sepanjang tahun ini sudah memangkasnya beberapa kali hingga 100 basis poin.

Sementara dari dalam negeri, investor tengah mengarahkan fokusnya kepada kebijakan yang akan dibuat Bank Indonesia (BI) yang akan bersidang dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 20-21 November. Rencananya Gubernur BI dan sejawat akan mengumumkan kebijakan suku bunga BI 7 Day RR pada Kamis besok.

Para analis memperkirakan suku bunga acuan akan dipertahankan di 5 persen. Deposit facility rate juga tetap di level 4,25 persen, dan lending facility rate tetap di 5,75 persen,” kata Ibrahim.
Selain itu, hari ini laju rupiah agak sedikit terbantu sehingga cuma melemah tipis karena sikap pemerintah yang optimistis bahwa perekonomian dalam negeri ke depan semakin bagus dan bisa meningkat Produk Domestik Bruto (PDB) di tahun 2020.

“Semua itu bisa terjadi, asalkan pemerintah perlu melakukan berbagai perubahan struktural dengan menjadikan sektor investasi dan ekspor sebagai penunjang utama dalam pencapaian target pertumbuhan ekonomi di tahun depan,” ujar Ibrahim.

Yang perlu diperhatikan juga adalah soal konstribusi konsumsi domestik yang hanya bisa mencetak pertumbuhan stagnan sehingga harus ada pembenahan pada berbagai hal yang menghambat investasi dan ekspor.

Tantangan utama yang terus jadi fokus pemerintah dan Bank Indonesia adalah dampak dari perang dagang antara AS dan China dan Brexit yang kemungkinan masih akan berlanjut di tahun depan.