Rupiah (ilustrasi)
Rupiah (ilustrasi)

MATA INDONESIA, JAKARTA – Nilai tukar rupiah atas dolar AS ditutup melemah di akhir perdagangan Kamis, 20 Februari 2020.

Mengutip data RTI Bussines, rupiah ditutup pada posisi Rp 13.720 atau melemah 0,23 persen.  Direktur TRFX Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan, pelemahan mata uang garuda disebabkan oleh sejumlah sentimen dari luar negeri antara lain sebagai berikut.

Pertama, soal suku bunga acuan Bank Sentral AS alias The Fed Fund Rate. Dalam risalah dari pertemuan terbaru, Bank Sentral AS menunjukkan, para pejabat mengindikasikan bahwa mereka dapat membiarkan suku bunga tidak berubah selama beberapa bulan.

“Hal ini bisa berindikasi buruk bagi laju dolar AS. Bisa berdampak membungkam dolar, mengikuti data perumahan dan inflasi grosir AS yang melampaui perkiraan ekonom,” ujar Ibrahim, Kamis sore ini, 20 Februari 2020.

Kedua, soal Bank Sentral Cina yang menurunkan suku bunga pinjaman satu tahun (LPR) sebesar 10 basis poin menjadi 4,05 persen dari 4,15 persen pada penetapan bulanan sebelumnya. Sementara, LPR lima tahun diturunkan sebesar 5 basis poin menjadi 4,75 persen dari 4,80 persen.

Ketiga, soal penurunan dalam kasus baru virus corona. Sementara banyak investor skeptis terhadap metodologi pelaporan China.

“Banyak pedagang mengatakan mereka tetap berhati-hati karena virus yang sebelumnya tidak diketahui telah mengakibatkan lebih dari 2.000 kematian di Cina dan menyebar ke 24 negara lainnya,” kata Ibrahim.

Sementara dari dalam negeri, laju rupiah dibayangi oleh hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada Februari 2020. Rapat yang berlangsung pada 20-21 Februari ini merupakan cakupan triwulanan.

Gubernur BI Perry Warjiyo bersama Dewan Gubernur memutuskan untuk menurunkan suku bunga acuan BI 7 Days RR menjadi 4,75 persen.

“Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 19-20 Februari 2020 memutuskan untuk menurunkan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 25 bps menjadi 4,75%, suku bunga Deposit Facility sebesar 25 bps menjadi 4,00%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 25 bps menjadi 5,50%,” kata Ibrahim menirukan keputusan yang dibacakan Perry hari ini.

Ibrahim juga menilai, sejuah ini kebijakan moneter Indonesia tetap akomodatif dan konsisten dengan prakiraan inflasi.

“Stabilitas eksternal juga aman, pemerintah juga terus melakukan langkah pre-emptive untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi domestik di tengah tertahannya prospek pemulihan ekonomi global sehubungan dengan terjadinya Covid-19,” ujar Ibrahim.

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here