Abdelaziz Bouteflika

MINEWS, INTERNASIONAL – Presiden Aljazair Abdelaziz Bouteflika secara resmi mengumumkan pengunduran dirinya dan pengakuan menyerah dari tekanan rakyat pada Selasa 2 April 2019 waktu setempat.

Setelah gelombang massa menghantam pemerintahan Bouteflika sejak akhir Februari lalu, pria berusia 82 tahun yang sudah menjabat selama dua dekade itu mengumumkan pengunduran dirinya secara langsung dengan disiarkan melalui kantor berita pemerintah APS.

Bukan hanya rakyat, tekanan kuat juga datang dari pihak militer yang resah dan tak ingin membuang-buang waktu dengan presiden yang dianggap sudah tak bisa berbuat apa-apa lagi.

Sejak 2013 lalu, Bouteflika mengalami stroke dan membuatnya jarang tampil di hadapan umum. Ia sebenarnya sudah menyatakan akan berhenti dari jabatannya pada 28 April, namun pihak militer merasa perlu dipercepat.

“Kami putuskan dengan jelas untuk berpihak pada rakyat sehingga kehendak mereka sepenuhnya harus dipenuhi,” kata Kepala Staf Militer Aljazair Letjen Ahmed Gaed Salah.

Pengunduran diri Bouteflika ini akan menempatkan Abdelkader Bensalah, ketua Majelis Tinggi, sebagai pejabat presiden selama 90 hari sampai pemilihan umum diselenggarakan.

Penunjukkan Bouchachi sebagai pegemban pemerintahan adalah langkah untuk melanggengkan sistem politik saat ini.

Bouteflika ditunjuk menjadi presiden pertama pada 1999. Ia punya nama besar dalam mengakhiri perang saudara di Aljazair antar kelompok Islam fanatik yang mengakibatkan korban jiwa sebanyak 200 ribu orang.