Ilustrasi (Pixabay)

MINEWS, JAKARTA – Nilai tukar rupiah diprediksi akan kembali ditutup melemah atas dolar Amerika Serikat (AS) di akhir perdagangan hari kedua pekan ini, Selasa 20 Agustus 2019. Hal tersebut diungkapkan oleh Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim.

Ia mengatakan bahwa dalam transaksi Selasa ini, rupiah akan melemah di kisaran Rp 14.177 hingga Rp 14.288 per dolar AS.

Ibrahim menyebut pelemahan Rupiah masih akan disebabkan oleh sejumlah sentimen dari luar dan dalam negeri,

Pertama, soal pernyataan Presiden AS Donald Trump yang belum siap untuk melakukan perdagangan dengan China. Trump menegaskan perang dagang mereka dengan Cina tidak membahayakan AS dan bahwa ekonomi ‘berjalan sangat baik’.

“Trump menegaskan bahwa dia tidak siap untuk membuat perjanjian perdagangan dengan China, mengisyaratkan bahwa dia ingin melihat Beijing menangani protes yang sedang berlangsung di Hong Kong terlebih dahulu,” ujar Ibrahim.

Kedua, Huawei juga mendapat sorotan, setelah Trump mengatakan tak ingin menjalankan bisnis dengan perusahaan yang mengancam keamanan nasional.

“Padahal sebelumnya, AS sedang mempersiapkan untuk memperpanjang lisensi yang memungkinkan Huawei membeli suku cadang dari perusahaan AS selama 90 hari,” kata Ibrahim.

Ketiga, para investor juga berhati-hati menjelang debut suku bunga acuan baru China pada hari Selasa, yang diumumkan pada akhir pekan. Di mana, Bank Rakyat Tiongkok pada hari Sabtu meluncurkan reformasi suku bunga untuk membantu menurunkan biaya pinjaman bagi perusahaan dan mendukung perlambatan pertumbuhan, yang telah dilanda perang dagang dengan AS.

“Analis percaya reformasi akan membuka pintu untuk pemotongan suku bunga, mungkin pada hari Selasa, tetapi dibagi atas ukuran setiap pengurangan awal dan seberapa banyak itu dapat membantu memperjuangkan perusahaan kecil dalam waktu dekat,” kata Ibrahim.

Keempat, investor juga akan tertuju pada Federal Reserve minggu ini karena para pedagang menunggu wawasan baru tentang bagaimana bank sentral dapat menanggapi kekhawatiran yang berkembang dari resesi setelah hasil Treasury AS terbalik minggu lalu.

The Fed akan menerbitkan risalah pertemuan Juli pada hari Rabu, sedangkan  Powell akan menyampaikan pidato pada hari Jumat pada pertemuan tahunan para gubernur bank sentral di Jackson Hole, Wyoming

“Powell mengatakan setelah The Fed menurunkan suku bunga pada bulan Juli bahwa pelonggaran bukanlah awal dari serangkaian pemotongan. Tetapi ekspektasi pasar bagi The Fed untuk menurunkan suku bunga sebesar 25 basis poin lagi pada pertemuan kebijakan berikutnya di bulan September telah meningkat,” ujar Ibrahim.

Sementara sentimen bagi rupiah dari dalam negeri adalah, soal pidato Jokowi terkait perekonomian nasional. Jadi, walaupun kondisi ekonomi global sedang bermasalah akibat perang dagang dan Brexit, presiden Jokowi dalam pidato  hari Jumat 16 Agustus 2019 merasa optimis PDB dalam RAPBN  2020 di patok di level 5,3 persen.

“Jika terealisasi, maka akan menandai laju pertumbuhan ekonomi tertinggi sejak tahun 2013,”kata Ibrahim.