Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim (Foto: Istimewa)

MATAINDONESIA, KUPANG – Nama tempatnya adalah Nggolonio terletak di Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT). Di sana berdiri sebuah sekolah negeri, SMPN 6 Aesesa. Sekolah yang mulai berdiri dari tahun 2013 silam, ternyata masih kesulitan akan akses air bersih.

Wakil Kepala Sekolah SMPN 6 Aesesa, Marselinus Mosa mengatakan bahwa saat sekolah ini dibangun sebenarnya ada akses pipa air yang masuk ke kompleks sekolah, namun airnya cuma keluar sebentar saja.

“Sekarang hanya angin, dan sebagian pipa tidak tahu entah kemana. Kami sudah usul lewat musyawarah perencanaan dan pembangunan desa tapi tidak ada hasil,” ujarnya, Selasa 6 Agustus 2019.

Kondisi ini, kata Marselinus, membuat para guru tak tega untuk memompa akademik siswa karena mereka sudah kelelahan mengambil air yang jaraknya cukup jauh.

Saban hari, selain membawa tas berisi buku-buku sekolah, para siswa juga rajin membawa jerigen air ukuran lima liter untuk memenuhi kebutuhan air di sekolah.

Tak berhenti disitu, saat istirahat siang tiba, para siswa kembali meluangkan waktu berjalan beramai-ramai untuk mengambil air di sumur warga yang jaraknya 3 – 5 kilometer (km).

Acap kali, para siswa harus mengantri sekitar satu jam karena debit air sangat kecil dan kedalaman sumur mencapai lebih dari 20 meter.

Katarina Jareng, salah satu siswa di sekolah tersebut juga berkata bahwa mereka terpaksa harus mengambil air untuk mengisi toilet dan menyiram tanaman di pekarangan sekolah. Bahkan ritmenya bisa dua kali sehari, jika air di toilet tak ada sama sekali.

“Kalau kami tidak mau ambil air, lalu siapa yang ambil? Kasihan juga ini sekolah dari dulu air tidak ada. Malu juga, kalau ada tamu datang, buang airnya di hutan karena kamar WC tidak ada air. Jadi biar capek kami harus pergi ambil,” kata dia.