MATA INDONESIA, NEW YORK – Indeks utama Wall Street anjlok pada penutupan perdagangan akhir pekan lalu. Sejumlah negara bagian AS  memberlakukan pembatasan akibat kasus virus corona meningkat lagi.

Mengutip Reuters, Senin 29 Juni 2020, Dow Jones Industrial Average turun 730,05 poin atau 2,84 persen menjadi 25.015,55, indeks S&P 500 kehilangan 74,71 poin atau 2,42 persen menjadi 3.009,05, dan Nasdaq Composite turun 259,78 poin atau 2,59 persen menjadi 9.757,22.

Beberapa negara bagian AS yang telah membuka pembatasan, akhirnya kembali menutup sejumlah kegiatan bisnis akibat virus corona. Texas dan Florida juga bahkan menutup kembali bar dan sejumlah kafe. ”Anda melihat peningkatan kasus yang cukup signifikan. Jika orang-orang mulai merasa kembali tidak aman untuk makan di luar atau berbelanja, itu bisa berdampak sangat negatif pada pasar saham,” keluh Kevin Grogan, direktur pelaksana strategi investasi di Buckingham Strategic Wealth di St. Louis.

Wall Street Journal melaporkan kesepakatan perdagangan Fase 1 AS-China bisa berisiko menambah tekanan pada saham AS. Menurut laporan itu, para pejabat China memperingatkan bahwa campur tangan Hong Kong dan Taiwan dapat membuat Beijing mundur dari komitmennya membeli barang-barang pertanian AS. ”Itu menambahkan satu lagi ke dalam risiko,” kata Edward Moya, analis pasar senior di OANDA di New York.

Sektor keuangan, layanan komunikasi, dan energi melampaui S&P 500 mengalami penurunan. Namun saham bank anjlok lebih dalam yakni 6,1 persen, setelah Federal Reserve membatasi pembayaran dividen dan melarang pembelian kembali saham hingga setidaknya kuartal IV atau setelah stress test tahunan.

Kekhawatiran baru atas gelombang kedua pandemi Covid-19 telah mengancam penguatan Wall Street. Saham Facebook Inc merosot 8,3 persen, membebani S&P 500, setelah Unilever PLC dan Verizon Communications Inc bergabung dengan memboikot iklan raksasa media sosial itu karena tidak berbuat cukup banyak untuk menghentikan pidato kebencian di platformnya.

Saham Nike Inc turun 7,6 persen akibat penutupan toko dan mencatatkan kerugian kuartalan yang cukup dalam. Saham Gap Inc melonjak 18,8 persen, setelah ritel ini melakukan kontrak 10 tahun dengan rapper dan perancang busana Kanye West untuk membuat lini pakaian di bawah merek Yeezy.

 

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here