Ilustrasi pemimpin ISIS ditangkap pasukan intelejen Irak
Ilustrasi pemimpin ISIS. (Foto: Ist)

MATA INDONESIA, JAKARTA – Kelompok teroris ISIS sudah beberapa kali menglaim serangan teror yang mereka lakukan. Pengamat intelijen dan terorisme Stanislaus Riyanta menilai bahwa hal ini bertujuan untuk memperlihatkan eksistensi mereka.

“Ada kebutuhan untuk eksistensi sekaligus propaganda,” kata Stanislaus kepada Mata Indonesia News, Jumat 26 Februari 2021.

Teror yang dilakukan diharapkan mampu memperlihatkan kegagalan aparat serta memprovokasi tindakan keras dari aparat negara. Hal ini yang membentuk ketakutan massal sehingga semakin mendorong eksistensi pelaku teror di hadapan publik.

Selain ingin memperlihatkan eksistensi, Stanislaus menilai upaya klaim yang dilakukan teroris merupakan tindakan pelaporan kepada pihak yang mengendalikannya.

“Selain itu bisa saja sebagai bentuk laporan atau pertanggungjawaban aksi kepada pihak yang mengendalikannya,” kata Stanislaus.

Hal ini sudah pernah terlihat di beberapa peristiwa teror sebelumnya yang terjadi pada tahun 2020 lalu yakni penembakan di Wina, Austria. Pelaku yang bernama Abu Dagnah Al-Albany ini juga mengunggah video janji setianya kepada pimpinan ISIS Abu Ibrahim al-Hashemi al-Quraisihi.

Sementara di Indonesia, jaringan kelompok ISIS juga sudah beberapa kali melakukan aksi teror. Kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD) merupakan kelompok teroris lokal yang terafiliasi dengan ISIS dan sudah beberapa kali melakukan serangan di dalam negeri. Mulai dari penusukan mantan Menkopolhukam Wiranto hingga pengeboman di Mapolresta Medan.

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here