Bumi Kekurangan Sinar Matahari dan Diselimuti Salju, Tanda Kiamat?
Bumi Kekurangan Sinar Matahari dan Diselimuti Salju, Tanda Kiamat?

MATA INDONESIA, JAKARTA – Hasil analisis dari sejumlah ilmuwan menyatakan bumi mulai kekurangan asupan sinar matahari dan diselimuti salju. Apakah ini tanda kiamat kian dekat?

Fenomena ini disebut Snowball Earth atau Bumi bola salju. Para ilmuwan pun belum mengetahui secara pasti apa yang menyebabkan fenomena seperti ini terjadi.

Namun sejumlah ilmuwan dari Massachusetts Institute of Technology sudah mendapatkan penjelasan teoritis yang diterbitkan di Proceedings of the Royal Society A.

“Ada banyak ide tentang apa yang menyebabkan glasiasi global ini, tapi mereka semua mengarah pada beberapa modifikasi implisit radiasi matahari yang masuk,” kata peneliti ilmu planet dari MIT Constantin Arnscheidt, melansir Science Alert, Minggu 2 Agustus 2020.

Artinya Snowball Earth bisa terjadi ketika cahaya matahari yang sampai ke permukaan Bumi berkurang dan menyebabkan temperatur Bumi menjadi lebih rendah hingga akhirnya membeku.

Dalam simulasi yang dilakukan Arnscheidt dan koleganya ahli geofisika dari MIT Daniel Rothman menemukan bahwa jika radiasi matahari turun cukup cepat dalam waktu yang cukup lama bisa menyebabkan Snowball Earth.

Namun mereka juga belum mengetahuinya secara pasti apa yang bisa menyebabkan fenoma alam tersebut. Salah satu analisa mereka adalah yang menyebabkan bumi demikian karena musim dingin hingga erupsi gunung berapi yang bisa saja menyelimuti Bumi dengan abu dan awan yang tebal.

“Atau mungkin disebabkan oleh fenomena biologi di zaman purba, seperti merebaknya ganggang penghasil uap air yang bisa menghasilkan awan kondensasi yang pada akhirnya membuat lingkungan sekitarnya membeku,” ujar Arnscheidt.

Mereka pun memperkirakan berkurangnya cahaya matahari yang mencapai permukaan Bumi sebanyak 2 persen dan terjadi selama 10.000 tahun sudah cukup untuk memicu fenomena ini. Jika dibandingkan dengan usia Bumi yang mencapai 4,5 miliar tahun, durasi ini memang terbilang singkat tapi bisa membawa banyak perubahan.

Arnscheidt pun menyarankan agar para ilmuwan untuk perlu mencari tahu apa yang menyebabkan fenomena ini terjadi. Apalagi saat ini Bumi sedang menuju arah sebaliknya dengan pemanasan global yang progresnya semakin cepat.

“Ini mengajarkan kita bahwa kita harus waspada terhadap kecepatan kita memodifikasi iklim Bumi, bukan hanya besarnya perubahan,” katanya.

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here