Pembangunan Bendungan Pidekso. (Kementerian PUPR @KemenPU)

MINEWS.ID,WONOGIRI – Dua tahun lagi, masyarakat di sekitar daerah aliran sungai (DAS) Bengawan Solo tidak perlu khawatir kebanjiran lagi, karena saat itu Bendungan Pidekso sudah jadi.

Meski sempat terhambat pembebasan lahan namun kini kemajuan proyeknya sudah mencapai 49 persen.

“Penandatanganan kontrak pembangunan Bendungan Pidekso telah dilakukan sejak Februari 2015, tetapi baru bisa dimulai pekerjaan fisiknya pada Maret 2018 karena kendala pengadaan lahan. Saat ini progresnya sudah menggembirakan, sudah sekitar 49 persen dan ditargetkan selesai pada tahun 2021,” ujar Menteri Basuki di lokasi pembangunan Bendungan Pidekso saat libur Isra-Mi’raj, Rabu 3 April 2019.

Bendungan itu berada di hulu Sungai Bengawan Solo sehingga selain untuk pengendalian banjir bisa juga untuk mengairi sawah yang ada di hilirnya.

Pembebasan lahan untuk membangun bendungan menggunakan dana talangan sebesar Rp 416 miliar serta sisanya dengan dana Lembaga Manajemen Aset Negara (LMAN).

Jika sudah jadi fasilitas ini mampu mengairi area irigasi seluas 1.500 hektar. Air irigasi dari bendungan akan meningkatkan Intensitas tanam dari 133 persen (2000 Ha) ke 240 persen (3600 Ha).

Selain itu bisa menjadi sumber air baku 300 liter/detik untuk wilayah Wonogiri, Sukoharjo, Solo dan sekitarnya.

Daya tampung bendungan Pidekso mencapai 25 juta meter kubik, dengan ketinggian 44 meter dari dasar sungai.

Menteri Basuki meminta bendungan yang menelan anggaran APBN sebesar Rp 436 miliar tersebut dapat diselesaikan dengan kualitas yang sebaik mungkin.

Selain Pidekso, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) tahun ini juga akan menyelesaikan tiga bendungan lainnya, yakni Bendungan Gondang, Gongseng & Bendo.

Pembangunan bendungan itu diperlukan untuk mendukung ketahanan air dan pangan. Secara nasional lahan irigasi yang seluas 7,3 juta hektare baru 11 persen dilayani bendungan. Sisanya mengandalkan air dari hujan atau sawah tadah hujan.