Ilustrasi Twitter
Ilustrasi Twitter

MATA INDONESIA, INTERNASIONAL – Twitter mengunci akun Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) di Cina lantaran membela kebijakan Beijing di wilayah Xinjiang, yang menurut platform media sosial AS melanggar kebijakan perusahaan terhadap “dehumanisasi”.

Pada bulan ini, akun Kedutaan Besar Cina, @ChineseEmbinUS, memposting bahwa perempuan Uighur tak lagi menjadi mesin pembuat bayi. Namun, tweet tersebut dihapus oleh Twitter dan diganti dengan label yang menyatakan bahwa itu tak lagi tersedia.

“Kami telah mengambil tindakan pada Tweet yang Anda rujuk karena melanggar kebijakan kami terhadap dehumanisasi, yang menyatakan: Kami melarang dehumanisasi sekelompok orang berdasarkan agama, kasta, usia, disabilitas, penyakit serius, negara, ras, atau etnis,” kata juru bicara Twitter, melansir Reuters, Kamis, 21 Januari 2021.

Penangguhan akun kedutaan terjadi tak lama setelah Twitter menghapus akun mantan Presiden AS, Donald Trump, yang memiliki 88 juta pengikut, dengan alasan risiko kekerasan, setelah massa pendukungnya menyerbu Capitol Hill, pada 6 Januari 2021.

Diketahui massa pendukung Trump menyerbu Capitol Hill, tak lebih dari 24 jam usai pidato Trump yang meminta pendukungnya untuk “berjuang”. Penyerbuan ini juga memaksa para Senator dan anggota DPR AS mengungsi saat massa pendukung Trump mulai memecahkan jendela dan melakukan penjarahan.

Insiden di Capitol Hill menewaskan lima orang, salah satunya adalah aparat kepolisian setempat, Brian D Sicknik. Sementara tiga orang lainnya karena darurat medis, dan satu orang lain yang merupakan veteran Angkatan Udara mendapat tembakan.

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here