truk militer Italia bawa jenazah akibat covid19
Truk militer Italia bawa jenazah akibat covid19. (xinhua)

MATA INDONESIA, JAKARTA – Hari-hari belakangan ini kita selalu dikejutkan dengan tingginya angka kematian akibat Covid19 yang disebabkan infeksi virus corona. Bagi epidemiologis dari Lembaga Eijkman, Henry Suhendra  hal itu mengungkap kondisi kesehatan masyarakat Indonesia selama ini.

Pada umumnya infeksi virus itu berakibat fatal pada orang dengan penyakit jantung, diabetes dan hipertensi.

Seperti dilansir The Conversation, Henry pun mengungkapkan tingginya angka ketiga penyakit kronis pada masyarakat Indonesia belakangan ini.

Menurut data yang diungkap Henry, angka penyakit jantung koroner di Indonesia mencapai 1,5 persen dari seluruh populasi pada 2018. Itu berarti jumlahnya sekitar 4 juta orang.

Sedangkan angka orang yang menderita diabetes melitus juga sama 1,5 persen atau 4 juta. Sedangkan yang lebih besar adalah hipertensi menurut Henry sebesar 34 persen atau 60 juta orang dari populasi penduduk 18 tahun ke atas.

Menurut Henry angka itu berdasarkan dugaan yang ditemui di lapangan bahwa orang dengan ketiga penyakit itu berakibat sangat fatal bisa menjadi angka kematian jika terinfeksi virus corona tersebut.

Laporan The Lancet 11 Maret 2020 menguatkan kecenderungan tersebut. Dilaporkan angka kematian akibat terinfeksi virus itu mayoritas terjadi pada orang-orang yang menderita tiga penyakit bawaan tersebut.

Henry juga mengingatkan bahwa tingginya persentase kematian akibat Covid19 di Indonesia juga diduga karena belum semua orang terinfeksi tercatat akibat minimnya peralatan tes.

Selain minimnya peralatan tes juga karena mayoritas orang terinfeksi bergejala ringan atau bahkan tidak bergejala sama sekali.

Henry mengutip catatan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan penderita dengan gejala ringan atau tanpa gejala besarnya 80 persen. Hanya seperti gejala flu biasa dan akan hilang setelah mengonsumsi obat-obatan warung.

Itu bukan hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di seluruh dunia sehingga data yang muncul sebenarnya tidak menunjukkan realitas sesungguhnya.

Apalagi, gejala kritis setelah terinfeksi virus itu hanya 5 persen dan gejala berat sekitar 15 persen saja.

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here