Presiden Joko Widodo atau Jokowi didampingi Kepala Badan Intelijen Negara Budi Gunawan menyapa para tokoh Papua dan Papua Barat saat mengadakan pertemuan di Istana Negara, Jakarta, Selasa, (10/9/2019). Presiden Joko Widodo mengundang 61 tokoh Papua dan Papua Barat untuk membicarakan masalah percepatan kesejahteraan di Tanah Papua. Biro Pers Setpres/Muchlis

MATA INDONESIA, JAKARTA – Tahu lagu Yamko Rambe Yamko? Kalau kita ditanya dari mana asalnya banyak yang menjawab dari Papua, tetapi komika Arie Kriting menyodorkan fakta bahwa lagu itu bukan dari Bumi Cendrawasih.

Menurut Arie, saat dia bertanya kepada teman-temannya yang orang Papua tidak satu pun mengetahui arti lagu itu.

“Dan tidak ada yang tahu itu (Yamko Rambe Yamko) bahasa apa?” ujar lelaki bernama asli Satriaddin Maharinga Djongki yang dikutip Selasa 30 Juni 2020.

Maka, Arie mengaku heran mengapa lagu itu bisa dikenal berasal dari Papua sementara ratusan suku yang ada di Papua tidak mengetahui arti bahkan bahasa itu berasal dari mana?

Lebih heran lagi ketika dia memasukkan kata “Yamko Rambe Yamko” ke kolom Google Translate yang muncul adalah kata “terjemakan dari Swahili.”

Swahili adalah bahasa yang digunakan di wilayah sepanjang 1.500 kilometer garis pantai Afrika Timur.

Pasti kamu semakin pusing memahaminya. Ternyata seorang pemilik akun Facebook devilia__mnuro pernah mendiskusikannya melalui media sosial itu dengan beberapa kawannya.

Kawan-kawannya itu pernah mengikuti sosialisasi undang-undang musik Papua dan memiliki jawaban yang sama, Tidak Tahu asal lagu Yamko Rambe Yamko itu.

Mereka hanya memiliki informasi bahwa lagu “Yamko Rambe Yamko” kemungkinan diciptakan Belanda yang ditujukan untuk ras Melanesia termasuk Papua saat mereka merencanakan melepas wilayah tersebut dari NKRI.

Pemilik akun @devilia__mnuro juga menemukan fakta bahwa seluruh suku di Papua tidak ada yang menggunakan bahasa seperti itu.

Hal itu dikuatkan pernyataan dari pemilik akun Facebook @rubymaturbongs. Dia mengaku pernah mendapat cerita dari aktivis gereja di Papua bahwa lagu tersebut justru diajarkan kepada warga Papua saat misionaris pertama kali mendarat di tanah tersebut.

“Ini benar.. menurut mertua sy yg juga musisi Gerejawi di Papua, Bapak Engel Ngutra, lagu itu diajarkan oleh para misionaris awal yg dtg ke Papua kepada masyarakat (leluhur) di Tanah Papua 😁.”

Jadi sebaiknya kita tak perlu lagi menyanyikannya sebagai lagu dari Papua.

 

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here