Ilustrasi flu babi
Ilustrasi flu babi

MINEWS, RIAU – Virus flu babi Afrika kini menghantui sejumlah wilayah di Asia Tenggara, tak terkecuali masyarakat Tanjungpinang, Kepulauan Riau. Sebabnya, Balai Karantina Pertanian (BKP) Kelas II A setempat meningkatkan pengawasan di pintu masuk bandara dan pelabuhan untuk mencegah masuknya virus tersebut.

Peningkatan pengawasan ini melibatkan semua stakeholder terkait serta otoritas bandara dan pelabuhan yang ada di wilayah Kepulauan Riau. Hal ini disebabkan virus tersebut sudah sampai ke Filipina, yang notabene berdampingan langsung dengan Riau.

“Saat ini penyebaran virus itu sudah sampai ke Filipina. Maka itu perlu pengawasan lebih ekstra, apalagi Kepri berdampingan langsung dengan negara tetangga,” ucap Kepala Seksi Tumbuhan BKP Kelas II A Tanjungpinang, Khalid Daulay, Minggu 10 November 2019.

Pihaknya juga sudah melakukan sosialisasi kepada seluruh intansi di daerah, termasuk tamu atau wisatawan mancanegara yang masuk dari berbagai negara lain. Tujuannya agar tidak membawa produk yang memungkinkan terbawanya penyakit tersebut.

Khalid mengungkapkan jika virus demam babi Afrika ini berhasil masuk ke Kepulauan Riau, maka akan menimbulkan kerugian yang sangat besar. “Bisa menyebabkan matinya hewan ternak babi dengan persentase yang tinggi dan intensitas serangan yang sangat cepat,” kata dia.

Sementara Kepala Seksi Karantina Hewan BKP Kelas II Tanjungpinang, Purwanto, menyampaikan virus yang berasal dari Afrika tersebut memang tidak bisa menyerang manusia, tapi hanya kepada hewan ternak babi.

Dikatakannya, hal itu kemudian akan berdampak pada terhambatnya ekspor babi khususnya dari Kepri ke negara tujuan. “Setiap hari kita ekspor 1.000 ekor babi ke Singapura dari Pulau Bulan,” Sebutnya.

Mengutip Wikipedia, virus demam babi Afrika adalah virus DNA beruntai ganda dalam keluarga Asfarviridae. Ini adalah agen penyebab demam babi Afrika.

Virus ini menyebabkan demam berdarah dengan tingkat kematian yang tinggi pada babi domestik, beberapa isolat dapat menyebabkan kematian hewan secepat satu minggu setelah infeksi.