Ngutang Biaya Sewa Pesawat Rp 189 Miliar, Lion Air Digugat di Pengadilan London
Ilustrasi Pesawat Lion Air (istimewa)

MINEWS, JAKARTA – Kementerian Perhubungan (Kemenhub) berencana melakukan inspeksi pada seluruh pesawat Boeing 737 New Generation (NG) yang beroperasi di Indonesia.

Hal tersebut merupakan buntut dari laporan pelaksanaan DGCA Indonesia Airworthiness Directives (AD) nomor 19-10-003 dan FAA Airworthiness Directives Nomor 2019-20-02. Dalam laporan tersebut ditemukan ada retakan ada pesawat Boeing 737 NG. Hal tersebut dapat menyebabkan menyebabkan pesawat kehilangan kendali dan menyebabkan kecelakaan.

Sejauh ini, pihak Garuda Indonesia dan Sriwijaya air sudah mengkandangkan beberapa pesawat Boeing 737 NG-nya karena telah mencapai 30.000 siklus terbang (flight cycle).

Sementara dari pihak lion Air Group sebagai pemilik Boeing 737 NG terbanyak belum melakukan hal serupa karena rata-rata umur pesawatnya masih tergolong mudah dan masih di bawah siklus terbang yang ditentukan.

“Saat ini umur pesawat milik Lion Air group masih berada pada 25.000 flight cycle,” kata Corporate Communications Strategic Lion Air Group Danang Mandala Prihantoro ketika dihubungi Minews.id, Selasa 15 Oktober 2019.

Kalau untuk pemeriksaan dan perawatan, kata Danang, masih akan terus dilakukan sesuai airworthines directive (AD) atau perintah dari lembaga berwenang seperti FAA, EASA atau DKPPU.

“Ini harus dikerjakan secara mutlak jika pesawat udara terdaftar dalam AD tersebut, dengan interval tertentu guna menjaga kelaikudaraan. Untuk AD crack tersebut, Lion Air sudah memprogramkan pelaksanaannya sehingga sejauh ini masih aman bagi kami,” ujar dia.

Seperti diketahui, Boeing sebelumnya menemukan ada 38 retakan struktural pada pesawatnya berjenis 737-NG di seluruh dunia. Temuan itu membuat Federal Aviation Administration (FAA) Amerika Serikat meminta perusahaan maskapai penerbangan yang mengoperasikan 737-NG memeriksa seluruh kondisi pesawatnya.

FAA mencatat ada 165 dari 200 Boeing 737 NG yang terhitung sudah tua mengalami retakan struktural. Sejumlah kecil pesawat yang berbasis di Amerika Serikat dan telah berhenti beroperasi sementara. Boeing tengah mempersiapkan instruksi untuk perbaikan dan pergantian bagian-bagian yang rusak.

Dari hasil inspeksi pada pesawat Boeing 737 NG, diketahui 5 persen di antaranya mengalami kerusakan pada bagian pickle fork—setiap pesawat memiliki empat pickle fork. Satu dari seratus pesawat yang rusak itu dioperasikan oleh Garuda Indonesia.

Boeing 737 NG adalah generasi ketiga dari jenis pesawat 737 yang diproduksi Boeing. Sebelum Boeing 737-NG dikandangkan, produsen pesawat itu sudah menghentikan produksi dan operasi pesawat versi teranyarnya, yaitu 737 MAX. Boeing 737 Max digrounded setelah insiden kecelakaan Ethiopian Airlines dan Lion Air terjadi berturut-turut dalam waktu 6 bulan.