Valentina dan buah hatinya, Sirio Persichetti. (Foto: Reuters)

MATA INDONESIA, INTERNASIONAL – Sirio Persichetti tidak dapat berjalan, tidak pula dapat makan sendiri. Akan tetapi, anak berusia tujuh tahun itu telah menggemparkan dunia media sosial dengan tingkah lakunya sehari-hari dan membuktikan bahwa disabilitas bukanlah penghalang untuk menginspirasi orang lain.

Sirio menderita spastik tetraplegia, suatu bentuk kelumpuhan serebral yang memengaruhi pergerakan tiga anggota tubuh. Mulutnya terbuka secara permanen, menghalanginya untuk berbicara, meski hanya ungkapan cinta untuk orangtuanya.

Ia juga sulit untuk menelan. Oleh karena itu, ia diberi nutrisi cair melalui selang di perutnya dan harus menjalani trakeotomi untuk membantunya bernapas. Meski demikian, ia menanggung semua ini dengan penuh ketabahan, kelincahan, dan gairah untuk terus hidup yang besar.

Semangat inilah yang membuat sang ibu, Valentina membuat situs web dan akun Facebook, Instagram, juga Twitter yang mengisahkan mengenai kehidupan sehari-hari buah hatinya, dengan harapan dapat menginspirasi banyak orang.

Valentina mengunggah video yang menyentuh hati orang-orang di seluruh dunia dengan anekdot lucu berjudul “Sirio and the tetrabonds.” Tetra berasal dari paruh pertama tetraplegia dan ikatan dari gelandangan.

“Kami ingin menceritakan kisah tentang disabilitas dengan cara yang berbeda, menceritakan apa adanya, sesuatu yang tidak mudah dihadapi. Namun, jika disalurkan ke arah yang benar, dengan bantuan yang tepat, dapat memungkinkan anak-anak ini untuk menikmati sesuatu yang disebut kehidupan,” tutur Valentina, melansir Reuters, Selasa, 17 November 2020.

Di postingan lain, diceritakan Sirio pergi ke sekolah membawa ransel yang hampir menyamai tubuhnya atau mengendarai mobil mainan listrik, atau tanpa ampun membangunkan kakak laki-lakinya yang bernama Nilo.

Ia mengatakan ingin mematahkan stigma yang kerap menyelimuti para penyandang disabilitas dengan menunjukkan bahwa memiliki kebutuhan khusus bukan berarti mengakhiri kesenangan bagi seorang anak.

“Kami memahami bahwa berbicara mengenai disabilitas mutlak diperlukan tanpa (mencari) rasa kasihan, berbeda dengan disabilitas yang biasa dinarasikan,” sambungnya.

Valentina, seorang ibu yang berusia 38 tahun dan bekerja sebagai call center untuk layanan pos. Sementara suaminya, Paolo, berusia 58 tahun dan bekerja sebagai peneliti.

Ia mengatakan bahwa ia tidak pernah mengharapkan kisah anaknya menjadi viral. Tetapi Valentina menyadari kisah dan catatannya berguna, membantu, dan merupakan langkah penting untuk membuat kehidupan banyak orang jauh lebih normal.

1 KOMENTAR

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here