Pemberian Vaksin oleh Edward Jenner di Inggris
Pemberian Vaksin oleh Edward Jenner di Inggris

MATA INDONESIA, JAKARTA – Pernahkah kamu terkena Cacar? pastinya kamu akan menghindari orang yang sedang sakit cacar agar tidak tertular. Justru, bagi orang Tiongkok di Abad 15, penderita Cacar ini menjadi awal mula ditemukannya vaksin.

Dahulu, orang Cina menyadari bahwa orang yang pernah terjangkit cacar tidak akan terkena cacar kembali dengan kata lain, tubuhnya akan kebal dari infeksi ulang. Mereka kemudian mengawetkan koreng dari orang yang menderita cacar ringan dengan cara mengeringkannya dan menghancurkannya menjadi bubuk dan kemudian memasukkan kedalam hidung orang yang masih belum terjangkit virus cacar tersebut.

Cara pemberiannya, untuk laki-laki akan dimasukkan bubuk tersebut ke hidung kanan dan untuk perempuan dimasukkan ke hidung kiri. Namun, tidak tercatat seberapa efektif upaya tersebut dilakukan pada zaman itu.

Dan Edward Jenner, Dokter Inggris di abad ke-18 kemudian mengembangkan vaksin pertama di dunia yang lebih efektif dan aman digunakan untuk cacar.

Cacar melanda masyarakat di seluruh dunia ketika perdagangan global dan imperialisme tengah meluas, sekitar sepertiga orang dewasa dan 8 dari 10 bayi di dunia yang terinfeksi cacar meninggal. Pada abad ke-18 penyakit cacar telah membunuh sekitar 400.000 orang setiap tahunnya di Eropa. Penyakit tersebut saat itu memiliki efek gejala yang bertahan lama sehingga membuat orang-orang yang sembuh akan memiliki bekas luka yang amat parah.

Pengobatannya saat itu amat bervariasi, termasuk menempatkan penderita ke ruangan bersuhu panas atau bersuhu dingin. Kemudian, orang-orang saat itu juga mempraktekkan apa yang dilakukan orang Cina pada Abad-15.

Pada tahun 1700-an, orang-orang di pedesaan Inggris terlihat kebal dari penyakit cacar. Sayangnya tidak lama kemudian para pemerah susu terkena penyakit cacar sapi akibat dari pekerjaannya. Penyakit tersebut dapat tertular dari hewan ternak ke manusia.

Berbeda dari cacar biasa, cacar sapi hanya menyebabkan gejala yang relatif ringan pada manusia. Namun, cukup untuk memberikan kekebalan pada manusa untuk tidak terkena cacar kembali. Pada 14 Mei 1796, Edward Jenner mencoba untuk mengumpulkan pustula (nanah) cacar sapi dari seorang wanita bernama Sarah Nelmes dan kemudian memberikan pustula tersebut pada seorang anak berusia 8 tahun bernama James Philips dengan cara menggores dan memasukkan ke lengan Philips.

Setelahnya, Jenner mencoba menginveksi cacar manusia pada Philips, hasilnya kekebalan tubuh Philips dapat bertahan dari infeksi cacar manusia.

Dua tahun setelahnya, ia menerbitkan hasil penelitiannya dalam buku berjudul Penyelidikan Tentang Penyebab dan Efek Variolae Vacinae : Penyakit Yang Ditemukan di Beberapa Negara Bagian Barat Inggris, Khususnya Gloucestershire, dan Dikenal Dengan Nama Cacar Sapi.

Sehingga, pada tahun 1801, diperkirakan mencapai 100.000 orang yang divaksin dengan metode yang sama.

Reporter : Anggita Ayu Pratiwi

 

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here