Masjid Sultan-Omar-Ali-Saifuddien Brunei. (Kyoto Review)

MATA INDONESIA, JAKARTA – Ketika Britania Raya berusaha menyatukan bekas koloninya di Semenanjung Malaya dan utara Borneo (Kalimantan), hanya Kesultanan Brunei Darussalam yang menolak bergabung. Sultan Omar Ali Saifudin III yang memimpin negara kecil di tengah hutan Borneo tersebut khawatir kekayaan alamnya akan dikuasai Kerajaan Inggris dan dibagi-bagi dengan tidak adil.

Namun, Perdana Menteri Pertama Malaysia bentukan Britania Tunku Abdul Rahman terus menekan Brunei.

Perdana Menteri itu memanggil pulang ratusan guru dan pegawai dari Tanah Melayu yang dipinjamkan kepada negara Brunei selama mereka masih dalam kolonisasi Britania Raya.

Sultan Omar Ali menyadari bahwa negeri kecilnya memiliki sumber daya alam yang berlimpah terutama minyak bumi, maka dia tidak bergeming dari tekanan Tunku Abdul Rahman.

Apalagi, syarat bergabungnya Brunei ke dalam Malaysia modern adalah pembagian hasil minyak yang sebesar 10 persen hanya selama 10 tahun. Selepas itu, Pemerintah Pusat Malaysia mengambil alih sepenuhnya pengelolaan minyak tersebut.

Terbukti sekarang warga Brunei menikmati perjuangan Sultan Omar Ali. Sebanyak 400 ribu warga Brunei seluruh kebutuhan hidupnya kini ditanggung negara dari hasil sumber daya alamnya tersebut.

Sultan Brunei, Hasanal Bolkiah juga selalu tercatat sebagai salah satu orang terkaya di dunia.

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here