(Foto: Freepick)

MATA INDONESIA, JAKARTA – Hampir tiga dasawarsa sudah tragedi pembantaian Khojaly berlangsung. Namun, luka di hati rakyat Azerbaijan masih belum juga sembuh, terutama keluarga korban hingga sekarang.

“Meski pembantaian Khojaly berlangsung tahun 1992 hampir tiga dasawarsa telah berlalu, duka mendalam masih dirasakan rakyat Azerbaijan terutama keluarga korban hingga saat ini. Hati kami hancur, akan tetapi spirit kami akan terus hidup,” kata Duta Besar Azerbaijan, Jalal Mirzayev dalam Zoom Meeting, Senin, 22 Februari 2021.

“Peristiwa Khojaly merupakan pembantaian massal terbesar di abad 20. Post Soviet, perang antara Armenia dan Azerbaijan merupakan perang terpanjang dalam sejarah. Banyak korban yang berjatuhan. Yang menyedihkan adalah Khojaly adalah kota sipil, sehingga banyak warga sipil, lansia, dan anak-anak menjadi korban dari serangan pasukan Armenia,” tuturnya.

Pada 26 Februari 1992, ketika itu Azerbaijan masih dilanda musim dingin. Pasukan Armenia yang dibantu personel Resimen Senapan Bermotor 366 Uni Soviet membantai 613 warga yang tinggal di daerah Khojaly, Azerbaijan dalam kurun waktu hanya 2 jam! Di antara korban tewas tersebut, sebanyak 106 merupakan perempuan, 63 anak-anak, dan 70 lansia.

Pembantaian terhadap ratusan warga Khojaly terjadi karena adanya tentangan keras atas aneksasi yang dilakukan Armenia terhadap Azerbaijan dalam konflik Nagorno-Karabakh. Akibat konflik tersebut, setidaknya 20 persen wilayah Azerbaijan dianeksasi Armenia.

Pasukan Armenia mengambil alih kota Khojaly di Karabakh pada 26 Februari 1992, setelah menghantamnya dengan artileri berat dan tank, dibantu oleh resimen infanteri. Ketika pembantaian itu terjadi, penduduk Khojaly berjumlah lebih dari 11 ribu jiwa.

Selanjutnya, sebanyak 150 orang dari 1,275 orang Azerbaijan ditangkap oleh tentara Armenia selama pembantaian tersebut dan hingga kini tak diketahui di mana keberadaan mereka.

Pasca-pemeriksaan tragedi Khojaly, membuktikan bahwa para korban tidak hanya dibunuh tapi juga disiksa dengan cara yang tidak manusiawi. Menurut sejumlah wartawan asing yang saat itu bertugas di lokasi kejadian, kulit warga Khojaly dikuliti dan mata mereka dicakar. Human Rights Watch pun menggambarkan tragedi Khojaly sebagai “Pembantaian”.

Setahun kemudian atau tahun 1993, Dewan Keamanan PBB menerbitkan resolusi damai terkait konflik kedua negara pecahan Uni Soviet tersebut. Dalam resolusi disebutkan bahwa Armenia harus menarik pasukan bersenjatanya dari wilayah tersebut, tanpa syarat. Namun, Yerevan abai akan resolusi DK PBB tersebut.

Setelah hampir tiga dasawarsa berlalu, tidak ada satu pun warga Armenia yang menghadapi persidangan atas pembantaian Khojaly, sementara masih belum ada informasi mengenai apa yang terjadi pada 150 tawanan, di mana sebanyak 28 orang merupakan anak-anak.

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here