Prof Ugur Sahin dan istrinya Dr Ozlem Tureci
Prof Ugur Sahin dan istrinya Dr Ozlem Tureci

MATA INDONESIA, JAKARTA– Seluruh dunia kini sedang dilanda Covid-19. Jumlah kasus yang terinfeksi virus corona terus meningkat. Berbagai cara untuk memutuskan rantai penyebaran yang semakin luas telah dilakukan oleh sejumlah negara. Selain itu, berbagai perusahaan farmasi besar di dunia pun berlomba-lomba menciptakan obat dan vaksin Covid-19. Vaksin Covid-19 untuk memberikan kekebalan tubuh manusia terhadap virus corona.

Pandemi Covid-19 merupakan tantangan terbesar yang dihadapi oleh seluruh dunia. Ilmuwan-ilmuawan berusaha untuk menemukan obat dan vaksin dalam  menghadapi wabah ini. Vaksin Pfizer 90 persen efektif untuk melawan Covid-19 yang dipuji sebagai keajaiban.

Siapakah penemunya? Ialah pasangan suami istri, yakni Ugur Sahin dan Ozlem Tureci. Kedua pasangan Muslim ini memulai di BioNtech, sebuah teknologi yang berbasis di Jerman dalam mengembangkan perawatan dengan menggunakan mRNA.

Sahin merupakan putra seorang imigran muslim asal Turki yang bekerja di pabrik Ford di Cologne, Jerman. Lahir pada 19 September 1965 di Iskenderun, Turki. Dr Sahin adalah seorang dokter dan ahli imunologi. Ia tumbuh besar dengan mimpi menjadi seorang dokter, dan menjadi dokter di Universitas Cologne. Pada 1993, ia memperoleh gelar doktor dari universitas untuk karyanya tentang imunoterapi pada sel tumor. Sahin adalah kepala eksekutif dan salah satu pendiri perusahaan bioteknologi BioNTech.

Tureci merupakan putri dari seorang dokter Turki yang berimigrasi ke Jerman. Ia lahir pada tahun 1967 di Lastrup, Jerman. Ozlem Tureci pertama kali ingin menjadi seorang biarawati, lalu menyelesaikan sekolah kedokteran dan menjadi salah satu ilmuwan riset perintis di Jerman. Saat ini, ia sebagai kepala petugas medis BioNTech.

Melansir dari gulf news.com, di hari pernikahan Dr Sahin dan Dr Tureci mereka kembali ke lab setelah upacara tersebut. Pasangan ini ditempatkan pada penelitian dan pemeliharaan. Sahin pernah memenangkan penghargaan dalam bidang kedokteran, untuk penemuan bagaimana sistem pelayananan yang terinfeksi virus di tahun 1996 bersama dengan Peter C Doherty dari Australia. Di tahun 2001, pasangan ini merancang Ganymed Pharmaceuticals, yang mengembangkan obat untuk melawan kanker menggunakan antibodi monoklonal. Lalu, mereka juga menentukan BioNTech, dengan tujuan menggunakan teknologi yang lebih luas, termasuk messenger RNA, untuk mengobati kanker.

Bahkan sebelum pandemi, BioNTech sedang disibukkan dengan aktivitas penelitian, dan mengumpulkan ratusan juta dolar. BioNTech saat ini memiliki lebih dari 1.800 staf, dengan kantor di Berlin, Cambridge, dan Massachusetts.

Kini, BioNTech dan Pfizer mengumumkan bahwa vaksin virus Covid-19 yang dikembangkan oleh Sahin dan Tureci 90 persen efektif dalam mencegah penyakit tersebut. Hasil yang menakjubkan membuat BioNTech dan Pfizer terdepan dalam perlombaan penemuan vaksin yang telah menewaskan lebih dari 1,2 juta orang di seluruh dunia.

Awalnya, kedua pasangan ini hidup sederhana. Mereka malah tak memiliki mobil. Namun kini, Prof Sahin dan dr Tureci masuk ke dalam daftar 100 orang terkaya di Jerman.

Meski kaya raya, mereka tetap tinggal bersama putrinya di sebuah apartemen sederhana di dekat kantornya. Setiap pagi, Sahin dan Tureci mengayuh sepeda untuk bekerja di Mainz. Kemajuan pesat penemuan vaksin mereka, BNT162, kini telah membawanya ke pengakuan secara global.

Reporter: Azizah Putri Octavina

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here