Raymond Pierre Westerling
Raymond Pierre Westerling

MATA INDONESIA, JAKARTA – Raymond Westerling hidup tenang di usia tuanya. Pemimpin pasukan Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) yang membantai puluhan anggota TNI ini meninggal di usia tua. Tak ada proses hukum terkait dengan kejahatan yang ia lakukan saat memimpin 800 anggota KNIL (eks pasukan Indonesia yang direkrut Belanda) memberontak terhadap pemerintahan yang sah.

Nama Westerling menyisakan hal yang pahit bagi sejarah Indonesia. Westerling merupakan komandan yang dikenal sebagai sosok yang kejam dan keji. Tak hanya jadi otak pemberontakan APRA di Bandung, ia juga mendalangi pembantaian rakyat di Sulawesi pada tahun 1946.

Raymond Pierre Westerling lahir di Pera Turki pada 31 Agustus 1919. Pria yang dikenal sebagai De Turk ini lahir dari pasangan Paul Roe Westerling dan Sophia Moutzou. Ayahnya merupakan seorang pedagang barang antik.

Pada tahun 1942, ia menikah dengan Marjorie Edna Lilian Sowter. Sayangnya, dari pernikahannya ini ia tidak diberi keturunan. Setelah bercerai, ia menikah kembali dengan perempuan bernama Fernande Yvonne Forunier pada tanggal 25 Maret 1949.

Dari pernikahannya kedua, ia dianugerahi 3 anak, 1 putra dan 2 putri. Namun, pernikahannya yang kedua ini pun gagal. Ia kembali menikah pada tahun 1971 dengan Adriana Martina Vleesch Dubois. Bersama dengan Adriana, Westerling memiliki 1 orang putri.

Westerling besar di Pera, pinggiran Istambul. Walaupun berkebangsaan Belanda, keluarganya telah menetap di negara tersebut selama tiga generasi. Di usianya yang ke-21 tahun, ia mendaftar sebagai tentara Belanda di Inggris.

Ia menjalani wajib militernya sebagai Princess Irene Brigade di Wolverhampton, Inggris. Meski begitu, ia tidak suka berada di sana. Menurutnya, di sana hanya ada tugas jaga saja sehingga tidak sesuai dengan sifat agresifnya.

Ia mendaftar untuk pelatihan komando di Skotlandia. Selama menerina kepelatihan, ia menunjukan bakatnya dalam bidang itu. Sehingga, ia dipromosikan menjadi intruktur sersan.

Pada tahun 1944, ia diangkat menjadi sersan dan ditempatkan di sebuah organisasi yang melatih agen rahasia Belanda. Di tahun yang sama, ia ditunjuk sebagai instruktur untuk sukarelawan Belanda.

Di bulan Juni 1945, Westerling dipindahkan ke Tentara Kerajaan Hindia Belanda (KNIL). Saat itu, ia diangkat menjadi letnan dan ditempatkan di Korps Insulinde, bagian dari Angkatan 136 di Ceylon.

Setelah Jepang menyerah pada 15 Agustus 1945, atasannya mengirim Westerling bersama dengan anggota lainnya ke Sumatera untuk membantu tawanan perang di wilayah yang masih diduduki Jepang.

Pada pertengahan September, ia berhasil tiba di Medan. Misinya saat itu adalah untuk memperkuat kelompok CAM Brondgeest. Ia juga bertugas untuk mempertahankan kekuatan polisi militer yang terdiri dari orang Ambon, Manado, dan Indo-Eropa.

Tak lama, ia diperintahkan untuk memimpin pasukan Depot Speciale Troepen (DST) yang berfungsi untuk memberi pelatihan kepada personel militer, yang sebagian besar terdiri dari penduduk pribumi.

Pada Desember 1946, Letnan SH Spoor, memerintahkan Westerling dan 130 orang lainnya untuk pergi ke Sulawesi. Ia diberi misi untuk mengakhiri teror yang ada di sana serta memulihkan perdamaian.

Namun, ia menjalankan misi tersebut lewat kekerasan. Saat malam hari, ia dan pasukannya masuk ke rumah-rumah penduduk setempat untuk menangkapnya. Orang-orang yang memiliki senjata akan dibunuh dan rumahnya akan dibakar.

Para penduduk yang ditangkap dan dicurigai sebagai “teroris” akan dikeluarkan dari kerumunan dan ditembak ditempat. Selanjutnya, ia mendirikan polisi kampung untuk menegakan hukum di wilayah itu.

Diperkirakan pembantaian yang dilakukan oleh Westerling telah menewaskan 1.500 penduduk tak bersalah. Ia pun dianggap sebagai “pahlawan” bagi kaum Belanda. Ia dipuji sebagai seorang prajurit yang berani melakukan apa pun. Namun, tak sedikit yang mencerca tindakannya itu.

Pada Februari 1947, ia kembali ke Jakarta dan menambah jumlah pasukan khusunya menjadi 1.200 anggota. Karena tindakan kontroversialnya masih dikritik, bahkan hingga tingkat internasional. Ia dibebastugaskan pada tahun 1948. Namun, ia tetap bertanggung jawab untuk pelatihan hingga bulan Januari 1949.

Kemudian, Westerling dan istrinya, Fernande Yvonne Fournier, pindah ke Jawa Bara. Di sana, ia mendirikan sebuah perusahaan transportasi. Namun, kesibukan barunya ini tidak menghalanginya untuk berhubungan dengan dunia kemiliteran, khusunya pasukan khusus.

Ia juga melanjtukan hubungan dengan tokog-tokoh yang tidak ingin Indonesia dibuat kesatuan. Selain itu ia membentuk Angkatan Perang Ratu Adil (ARPA), yang sebagian besar anggotanya merupakan mantan anggota KNIL berjumlah 20.000 orang.

Saat Belanda secara resmi mengakui kemerderkaan Indonesia Serikat pada Desember 1949, Soekarno dengan cepat menyerbu negara federasi. Pada awal Januari 1950. Westerling mengultimatum pemerintah untuk menghormati negara federasi.

Pada tanggal 23 Januari 1950. Ia dan tentaranya melancarkan aksinya untuk merebut kota Bandung. Meski begitu, mereka gagal ketika ingin menyerang Jakarta karena keterbatasan senjata dan pendukung.

Karena kudeta yang dilakukannya gagal, Westerling dikirim secara diam-diam oleh pemerintah Belanda untuk ke luar dari Indonesia.

Setelah sempai ditahan selama beberapa waktu di Malaya, ia pergi menuju Belanda melalui jalur Kairo dan London. Tetapi saat di London, petugas tidak memberikan akses kepadanya. Ia pun memilih jalur lain melalui Brussels, Belgia.

Namun, dua hari setelah tiba di Belgia, otoritas setempat langsung menangkapnya. Setelah dibebaskan oleh pihak otoritas Belgia, Westerling tak langsung pulang menuju Belanda. Di sana, ia menyewa sebuah rumah di Rue de la Concorde No.59. Di tempat itu lah ia menulis memoarnya, Mijin Memories, yang sebagian besar berisi tentang pembelaan dirinya.

Westerling telah menghabiskan lebih dari tiga puluh tahun hidupnya untuk bertempur di medan perang. Oleh karena itu, ia memiliki kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan kehidupan normal.

Setelah sampai di Belanda, ia pun beberapa kali berganti pekerjaan. Hingga akhirnya, ia memiliki sebuah toko barang antik yang terletak di Amsterdam.

Westerling memang  tidak terbunuh di medan perang, tetapi dikalahkan oleh penyakit gagal jantung pada tahun 1987. Pengabdian terhadap negaranya malah dihadiahi kambing hitam untuk dirinya.

Westerling seperti hilang dari jejak sejarah.

Reporter: Diani Ratna Utami

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here