Alp Arslan
Alp Arslan

MATA INDONESIA, JAKARTA – Kebesaran bangsa Turki dimulai saat munculnya Dinasti Seljuk. Salah satu pemimpinnya yang terkenal adalah Sultan Alp Arslan. Julukan Alp Arslan merupakan pemberian dunia Barat. Salah satu sultan atau raja tergagah dalam Dinasti Seljuk.

Salah satu perang besar yang pernah dilakoni Sultan Alp Arslan adalah peperangan di dekat Kota Manzikert (sekarang Malazgirt, Turki Timur). Pada 26 Agustus 1071 M atau bertepatan dengan 463 H, pasukan Romawi Timur (Byzantium) yang dipimpin Kaisar Romanus Diogenes IV bertemu dengan pasukan Seljuk di bawah komando Sultan Alp Arslan di Kota Manzikert.

Pertempuran itu memainkan peran penting dalam melemahkan Kekaisaran Romawi Timur dan jatuhnya Anatolia ke tangan Kesultanan Seljuk. Dalam peperangan tersebut, pasukan Seljuk berhasil mengalahkan dan memukul mundur pasukan Romawi Timur.

Penyebab pertempuran tersebut karena Kaisar Romawi mempersiapkan pasukannya untuk menyerang dan membantai orang Islam. Pasukan yang dipersiapkan oleh Kaisar Romanus jumlahnya mencapai 100 ribu orang. Pasukan Romanus terdiri atas orang-orang Romawi, Eropa, Eropa bagian barat, Rusia, Bajnak, Karg, dan lain-lain.

Ketika pasukan Romanus sudah sampai di Manzikert, Sultan Alp Arslan masih belum mampu mengumpulkan semua pasukannya. Penyebabnya, jarak satu pasukan dengan yang lain sangat berjauhan dan ditambah lagi posisi musuh yang sudah semakin dekat. Dengan persiapan secukupnya, dia berangkat menuju Romawi. Pasukan yang dibawanya hanya berjumlah 15 ribu orang dari para penunggang kuda. Itu pun ia dapatkan di dalam perjalanan.

Sebelum bertempur melawan tentara Romawi, dia berpidato di hadapan pasukannya, ”Saya berjuang karena hanya mengharapkan pahala dari Allah SWT dan dengan penuh kesabaran. Kalau seandainya saya menang, maka itu adalah merupakan suatu nikmat dari Allah, seandainya saya mati syahid, maka putraku Malik Shah yang akan menggantikanku.”

Pidato ini menggetarkan hati bagi setiap orang yang mendengarnya. Tak heran, moral prajurit Turki pun bangkit dan berhasil mengalahkan Tentara Romawi.

Saat itu dunia Barat menyebut sang sultan dengan julukan Alp Arslan, yang berarti ”Singa yang Gagah Berani”.

Alp Arslan adalah cucu pendiri Dinasti Seljuk, Seljuk Beik, yang memeluk Islam mulai abad ke-10 M.

Memiliki nama lengkap Muhammad bin Daud Ja’fari Beik bin Mikhail bin Saljuk At-Turki. Sultan Alp Arslan terlahir pada 425 Hijriyah, bertepatan dengan 1029 M.

Ia memulai kariernya sebagai pemimpin rakyat, ketika menggantikan ayahnya, Chagri Begh, sebagai Gubernur Khurasan pada 1059 M.

Ketika pamannya, Thugril Beik, wafat. Alp Arslan naik tahta sebagai Sultan Seljuk. Ia resmi menyandang gelar Sultan pada 27 April 1064 M. Jabatan Gubernur Khurasan diserahkan kepada saudaranya, Suleiman.

Alp Arslan dikaruniai tujuh orang putra dan dua putri. Hingga akhirnya, tahta Kesultanan Seljuk pun diwariskan kepada salah seorang putranya bernama Malik Shah I.

Masa kepemimpinan Sultan Alp Arslan membawa Kesultanan Seljuk ke era kejayaannya. Begitu gemilang hingga menjadikan Dinasti Seljuk menjelma sebagai sebuah kekuatan yang disegani kawan dan ditakuti lawan-lawannya. Kekuatan militer Dinasti Seljuk begitu perkasa, sehingga tak ada kerajaan lain yang mampu menandinginya pada zaman itu. Kekuatan utama Dinasti Seljuk memang berada pada bidang militer.

Semasa memerintah, Sultan Alp Arslan dikenal sebagai seorang pemimpin yang berani serta memiliki kecakapan dalam militer dan keterampilan bertempur. Dalam mengonsolidasikan Kesultanan Seljuk dan melumpuhkan perlawanan yang datang dari berbagai kelompok di dalam negeri, ia dibantu Perdana Menteri Nizam Al-Mulk.

Nizam Al-Mulk merupakan salah seorang negarawan yang paling terkemuka di awal sejarah Islam. Sang perdana menteri juga berjasa dalam mendirikan lembaga administrasi yang menangani masalah pajak yang dipungut dari kalangan pengusaha, pedagang, serta daerah taklukannya.

Sejarah peradaban Islam mencatat, Sultan Alp Arslan sebagai pemimpin yang sangat adil, dermawan, penuh dengan belas kasihan terhadap rakyat dan orang-orang fakir. Ia senantiasa menyedekahkan harta yang dimilikinya.

Setiap bulan Ramadhan, Sultan Alp Arslan menyedekahkan sekitar 15 ribu dinar (koin emas) khusus untuk fakir miskin. Ia dikenal sebagai pemimpin yang prorakyat. Uang pajak yang berhasil dihimpun pemerintahan Seljuk tak digunakan untuk memperkaya diri.

Uang rakyat itu dia gunakan membiayai lahan-lahan pertanian, membayar gaji tentara, menyediakan makanan yang cukup bagi seluruh rakyatnya, serta membiayai perang guna memperluas wilayah kekuasaan Kesultanan Seljuk.

Selama memerintah Kekhalifahan Seljuk, Alp Arslan berhasil memperluas wilayah kekuasaannya hingga kawasan Asia Barat dan Turkistan yang merupakan tanah kelahiran leluhurnya. Didukung bala tentara yang kuat, ia kemudian menuju ke tepi Sungai Oxus untuk menaklukan wilayah Turkistan. Namun, ditengah perjalanan, pasukan yang dipimpinnya mendapatkan perlawanan hebat dari Gubernur Khawarizmi, Yussuf Al-Harezmi.

Guna mempertahankan wilayah kekuasaannya, dengan penuh keberanian sang gubernur menarik pisau belatinya dan kemudian menancapkannya tepat ke bagian dada penguasa Seljuk itu. Akibat luka yang dideritanya, Alp Arslan meninggal dunia empat hari kemudian, tepatnya pada 25 November 1072 M, pada usia 42 tahun.

Jenazahnya kemudian dibawa ke Merv, Khurasan (saat ini Turkmenistan) untuk dimakamkan di samping makam ayahnya, Chagri Begh. Di atas batu nisannya tertulis: ”Wahai orang-orang yang melihat kemegahan langit yang tinggi dari Alp Arslan, lihatlah! Dia berada di bawah tanah hitam sekarang…”

Ketika ia terbaring dalam keadaan sekarat, Alp Arslan berbisik kepada putranya bahwa kesombongan telah membunuhnya. Ia berujar, ”Dikelilingi oleh banyak prajurit yang memang dikhususkan untuk menjagaku siang dan malam, telah membuat keberanian menghalangi akal sehatku.”

”Aku lupa terhadap peringatan-peringatan yang ada, dan di sini sekarang aku berbaring, dalam keadaan kesakitan dan sekarat. Ingatlah ini sebagai sebuah pelajaran yang berharga, dan jangan biarkan kesombongan memperdayaimu!”

Untuk mengenang kepemimpinannya, pemerintah Turki mengabadikan namanya sebagai nama bulan dalam penanggalan Turki selama periode 2002 sampai Juli 2008.

Reporter: Indah Utami

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here