Dihina Bau saat Kuliah S1, Anak Papua ini Balas dengan Prestasi Masuk Universitas Harvard
Staf Khusus Milenial Presiden Billy Mambrasar (kompasiana)

MATA INDONESIA, JAKARTA – Kepergian musisi Glenn Fredly meninggalkan duka tersendiri bagi Staf Khusus Milenial Presiden RI Billy Mambrasar. Maklum Billy termasuk salah satu penggemar penyanyi berdarah ambon tersebut.

Ingatannya seketika berkelebat ke tahun 2005 hingga 2007. Saat itu, Billy masih menjadi mahasiswa Sarjana di Institut Teknologi Bandung (ITB). Demi menambah uang saku, Billy menjadi penyanyi jalanan yang juga manggung dari kafe ke kafe.

“Lagu-lagu yang diciptakan Penyanyi dan Musisi idola saya: Glenn Fredly, yang selalu saya bawakan, mulai dari Januari, Kasih Putih, Akhir Cerita Cinta, hingga lagu etnik ambon yang dipopulerkan beliau, seperti Rame-rame dan Toki-toki Gaba-gaba,” ujarnya lewat keterangan resmi yang diterima Mata Indonesia, Sabtu 12 April 2020.

Berikut cuplikan lagu ‘kasih putih’ yang dinyanyikan kembali oleh Billy dengan suara khasnya yang tak kalah merdu dengan Glenn.

Bahkan saking ngefans dengan Glenn, Billy sampai mengenakan kostum yang mirip. Ia menggunakan baju putih plus jaket ‘ngatung’, topi ala pelukis Italia, dan satu anting menempel di telinga kanan saya.

“Muka saya yang coklat gelap, dengan raut wajah Indonesia timur, dengan badan cungkring dan senyum lebar dengan rahang khas Papua semakin memperkuat asosiasi saya dengan penyanyi asal Maluku tersebut,” katanya.

Billy kemudian tersadar, Glenn tak semata jadi inspirasinya dalam olah vokal atau nyanyi. Lebih dari itu, sosok Glenn ikut membangkitkan rasa percaya dirinya sebagai anak Indonesia Timur yang sedang berjuang di Tanah Rantau. “Saya termotivasi untuk terus berjuang meraih cita dan mimpi,” ujarnya.

Begerak ke tahun 2006, saat di mana sebuah film hasil karya produser Ary Sihasale, keluar di bioskop dan memenangkan beberapa kategori Piala Citra. Film tersebut berkisah tentang perjuangan seorang anak di pegunungan Papua bernama Denias yang gigih berjuang menempuh Pendidikan setinggi-tingginya.

Sang pemeran Denias dalam film itu adalah Albert Fakdawer, putra Asli Papua. Albert yang juga adalah seorang penyanyi, sebelumnya sempat berkolaborasi dengan Glenn meluncurkan lagu yang berjudul Salam Bagi Sahabat.

“Lagu tersebut menjadi trending kala itu, semakin mengangkat energi saya untuk percaya kembali kepada diri dan asal saya,” kata Billy.

Kemudian di tahun 2019, terjadi sebuah insiden berbau rasisme atas anak-anak Papua. Ini ikut mendorong kampanye-kampanye ‘Saya Cinta Papua’ di seluruh Indonesia. Glenn lantas mengadakan sebuah konser kemanusiaan.

Dengan bertopi dan beraksesoris Papua, ia bernyanyi lagu etnik Ambon dan Papua dan berpidato singkat. Dalam narasinya, Glenn mengungkapkan rasa cintanya untuk Papua, dan berdoa yang terbaik bagi persatuan dan kesatuan Bangsa.

“Baru kali itu saya melihat, kemampuan retoriknya yang luar biasa, yang menambah daftar panjang alasan saya mengagumi sosok satu ini,” ujar Billy.

Menurut Billy, Glenn memberikan motivasi bahwa semua orang harus menghasilkan karya yang berdampak positif bagi seluruh masyarakat Indonesia. Tak peduli seperti apa warna kulitmu, bentuk muka atau jenis rambutmu. Intinya setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk dapat mendapatkan penghargaan dan pengakuan tersebut.

“Ia telah memberikan pesan secara tidak langsung bahwa ‘Berkaryalah, maka kamu akan memperoleh penghargaan’,” katanya.

Terimakasih Bung Glenn. Pergilah dalam Damai, Tuhan akan menyediakan tempat yang terbaik untukmu di seberang sana.

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here