Ibnu Batutah

MATA INDONESIA, JAKARTA – Muhammad Abu Abdullah bin Muhammad Al Lawati Al Tantawi Ibn Batutah atau yang lebih akrab dikenal Ibnu Batutah ini menjadi tokoh penakluk dunia dengan catatan perjalanan mencapai 120.000 kilometer.

Setelah mengarungi perjalanan yang panjang keliling dunia, Ibnu Batutah kembali ke Maroko untuk menjadi seorang hakim di kampung halamannya. Keluarganya berkedudukan terhormat sebagai elit para cendekiawan kota, menjadikan Ibnu Batutta sangat berharga karena didukung oleh keluarga para ahli hukum

Ibnu Batutah kecil terlahir dari keluarga cendikiawan keturunan suku Lawata, Maroko. Ia lahir pada 25 Februari 1304. Masa kecilnya tumbuh di tengah lingkungan pendidikan dan pengajaran. Ia selalu dibimbing orang tuanya untuk memperdalam ilmu, khususnya hukum dan agama.

Dari sini, Ibnu Batutah menjadikan penjelajahannya bukan seperti turis yang menikmati keindahan alam, melainkan sebagai ulama yang menyebarkan kebaikan dan membagi ilmu kepada siapapun yang ia temui.

Kisah penjelajahannya menjadi pengetahuan dan pelajaran, tidak hanya di kalangan Muslimin, tapi juga sejarawan barat. buku karangannya turut diterjemahkan ke dalam banyak bahasa, untuk catatan karangan sekaligus rujukan sejarah dunia Islam di seluruh penjuru negeri. Ia selalu mengambarkan perkembangan Islam, mulai dari Tanah Suci hingga menguak sejarah kerajaan Islam tertua di Indonesia, Samudera Pasai.

Selama rentang waktu 1325-1354 M, Ibnu Batutah berkelana tiga kali lebih panjang dari jarak yang telah dilalui penjelajah terkenal, Marco Polo. Catatan perjalanan panjangnya diabadikan ke dalam buku ‘Nuzhar fi Ghara’ib al-Amshar wa ‘Aja’ib al- Asfar’ atau yang dikenal ‘Rihla Ibnu Batutah.’

langkah awal Ibnu Batutah dimulai pada usia 20 tahun, saat itu ia menunaikan ibadah haji pada 1325 M.

Saat perjalanan dari Maroko menuju Mekkah, Ibnu Batutah bergabung dengan kafilah yang akan menuju Mesir. Hal ini untuk meminimalisir resiko buruk seperti perampokan ataupun perampasan. Bersama kafilah itulah ia menelusuri hutan, bukit, dan padang pasir sebagai kisah awal perjalanannya hingga 30 tahun lamanya.

“Aku sudah dipengaruhi keinginan yang mendadak menguasi batin dan sebuah hasrat yang sudah lama berkembang dalam dada untuk mengunjungi tempat-tempat suci yang semarak itu,” kata Ibnu Batutah dalam Rihlah.

Perjalanan awalnya yang diungkapkan dalam Rihla bertujuan untuk berziarah ke Kabah dan mengunjungi makam Nabi. Ia juga menyebutkan penjelajahannya itu sebagai cara untuk mencari dan menggali ilmu pengetahuan, sekaligus menyebarkan Islam ke seluruh penjuru negeri.

Setelah tujuan naik haji terpenuhi, Ibnu Batutah pergi ke Baghdad untuk sebuah pengembaraan. Dari sinilah ia tak henti melanjutkan perjalanan mengitari dunia, mulai dari daratan Eropa, India, Indonesia, bahkan Cina.

“Ia bukan lagi anak muda yang berdiri putus asa di pusat Kota Tunis tanpa tujuan dan orang untuk di ajak bicara.” katanya.

Ia meninggal usia 65 tahun pada 1369 M . Dalam catatan biografinya, Ibnu Batutah meninggalkan warisan berharga bagi dunia berupa catatan perjalanannya hingga sejarah seorang Muslim dalam menaklukkan dunia. (Maropindra Bagas)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here