ilustrasi turki ciptakan masker elektronik pembunuh virus corona
Ilustrasi masker (Foto: Istimewa)

MATA INDONESIA, JAKARTA – Dalam dua tahun terakhir ini, penggunaan masker mengalami peningkatan yang signifikan, terutama karena pandemi Covid-19 ini. Masker pun sudah menjadi kewajiban bagi warga untuk dipakai beraktivitas di luar rumah.

Namun, tahukah kamu masker tidak hanya marak digunakan pada saat ini saja?

Pada awalnya, masker digunakan untuk menyamar sebagai masker pelindung. Hal ini telah ada sejak abad ke-6 Sebelum Masehi (SM). Terbukti dari gambar orang-orang yang menutup mulutnya menggunakan kain yang ditemukan pada pintu makam Persia.

Kemudian, pelayan China pada abad ke-13 juga menutup wajah meeka dengan syal tenun. Hal ini digunakan atas perintah kaisar yang tidak ingin napas mereka mempengaruhi rasa makanannya.

Selain itu, terdapat kejadian yang dikenal dengan nama Black Death, yaitu wabah yang pertama kali melanda di Eropa pada Abad ke-14. Terdapat sedikitnya 25 juta orang yang meninggal antara tahun 1347-1351.

Saat itu para ahli percaya penyakit wabah tersebut menyebar melalui udara beracun atau racun yang membuat cairan tubuh seseorang menajdi tidak seimbang. Karena itu, mereka menutupi wajah mereka layaknya memakai masker dan memegang benda berbau harum.

Ada juga foto-foto dari zaman tersebut, tenaga medis yang merawat pasien yang menderita penyakit wabah menggunakan masker yang berbentuk seperi paruh burung. Topeng ini konon diisi dengan rempah-rempah seperti cengkeh, kayu manis, serta cairan.

Orang-orang menyebutnya sebagai dokter paruh. Para dokter yang mengenakan jubah hitam dan topi hitam dianggap sebagai simbol wabah mematikan di Abad Pertengahan. Topeng tersebut bertujuan untuk melindungi mereka dari penyakit racun yang dianggap sebagai penyebab wabah.

Meskipun tidak ada bukti jika dokter paru benar-benar ada, namun ada dua topeng yang terpajang di Wellcome Museum, London. Selain itu, adapula jubah kulit tebal, penutup mata yang menggunakan kaca tebal, sarung tangan dan topi juga menjadi pelengkap topeng yang dipajang tersebut.

Pada abad ke-18, terjadi peristiwa kabut asap London karena pabrik-pabrik terus mengeluarkan asap dan rumah-rumah yang membiarkan api batu bara mereka tetap menyala sehingga saat musim dingin. Selimut tebal kabut asap kuning keabuan menyelimuti kota London.

Tanggal 5-9 Desember 1952 menjadi masa yang terburuk saat itu, ada stidaknya 4.000 orang meninggal. Peristiwa kabut asap lainnya terjadi pada tahun 1962 yang mengakibatkan 750 orang meninggal. Sehingga pada abad itu, masker anti kabut menjadi sesuatu yang wajib dikenakan oleh orang-orang.

Setelah itu, di akhir perang dunia pertama, terdapat wabah influenza yang menjadi pandemi global, wabah ini disebut sebagai Flu Spanyol karena kasus pertamanya dilaporkan dari Syanyo dan sekitar 50 juta orang meninggal di sana. Kemudian, negara-negara mencobah mencegah penyebaran penyakit dengan menyemprotkan larutan anti-flu dan meminta orang-orang memakai masker seperti saat ini.

Kemudian, penggunaan masker ini juga terjadi saat adanya ancaman perang dunia ke-2 setelah Great war. Ada banyak klorin dan gas beracun membuat pemakaian masker gas tak hanya dari kalangan militer tapi juga bagi masyarakat biasa.

Pada tahun 1938, sebanyak 35 juta masker (General Civilian Respirators) didistribusikan. Bahkan, tidak hanya manusia yang memakainya, hewan-hewan juga dipakaikan masker gas tersebut.

Reporter : Anggita Ayu Pratiwi

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here