Pemandangan kamp imigran di Prancis. (Foto: DW)

MATA INDONESIA, INTERNASIONAL – Murtaza Khademi memutuskan untuk meninggalkan tanah kelahirannya, Afganistan. Ia nekad menyebrangi lautan demi menuju Prancis –sebuah negara yang ia yakini dapat mewujudkan segala impian.

Di benaknya, Prancis merupakan tempat yang nyaman dan aman. Akan tetapi, ketika tiba di Prancis, Khademi harus menerima nasib dengan tinggal di tenda imigran di kota Paris bersama para pengungsi dan pencari suaka dari negara lain.

Ya, kenyataan tak selalu manis. Ia menghadapi sisi lain yang tak pernah ia bayangkan di Eropa, yakni operasi polisi di mana-mana. Ia bahkan menerima pukulan dari pentungan aparat kepolisian saat bentrok Senin (23/11) malan waktu setempat.

“Pasukan polisi tidak punya belas kasihan. Kami pikir mereka adalah orang-orang yang manusiawi. Mereka sama sekali tidak seperti itu,” kata Khademi saat ditemui di dekat stasiun kereta api di Paris, tempat badan amal membagikan makanan, melansir Reuters.

Khademi termasuk di antara lusinan migran dan pencari suaka yang mendirikan tenda di alun-alun kota Paris dalam protes terorganisir yang dimaksudkan untuk menarik perhatian pada kondisi kehidupan mereka yang genting.

Polisi dengan perlengkapan anti huru hara bergerak membubarkan protes pada Senin malam lalu. Petugas bergumul dengan para pengunjuk rasa ketika mereka mencoba menyeret mereka keluar dari tenda.

Khademi yang berusia 27 tahun berada di dalam tendanya ketika polisi datang dan memukulinya dengan pentungan. Dia melarikan diri, tetapi mengatakan dia meninggalkan barang-barangnya di dalam tenda, sehingga sekarang ia tak memiliki apa-apa.

Dari Mazar-i-Sharif di Afganistan utara, dia melakukan perjalanan melalui Pakistan, Iran, dan melewati Balkan, hingga akhirnya mencapai Prancis. Dia sebelumnya tinggal di kamp migran di pinggir Paris, namun dibubarkan.

Sekarang, dia harus puas berpindah dari satu tempat ke tempat lain, untuk tidur atau sebatas untuk melepas lelah. Sejatinya, banyak orang Prancis yang memberi dukungan kepada para pengungsi dan pencari suaka lain, tetapi polisi bersikap bermusuhan.

“Saya pikir Prancis adalah tempat yang bagus dan orang-orangnya adalah orang Eropa, dan itulah mengapa kami datang ke sini. Akan tetapi, para imigran tidak diterima dengan baik,” katanya dalam bahasa Dari, yakni bahasa daerah Afganistan.

“Kami tidak punya jalan kembali; kami harus tinggal di sini dan menanggung situasi karena kami tidak punya pilihan lain,” tuntasnya.

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here