Warga di California di tahun 1918 memakai masker untuk melindungi diri dari wabah Flu Spanyol. (National Archives)
Warga di California di tahun 1918 memakai masker untuk melindungi diri dari wabah Flu Spanyol. (National Archives)

MATA INDONESIA, JAKARTA – Masker menjadi barang utama yang harus dibawa dan dikenakan saat beraktivitas di luar rumah. Sejak pertama kali virus corona muncul dan menyebar di awal 2020 lalu, semua negara mewajibkan warganya untuk menggunakan masker tanpa kecuali.

Para ahli dan peneliti meyakini penggunaan masker disertai dengan jaga jarak dan rajin mencuci tangan bisa menjadi cara efektif mencegah penularan virus termasuk virus corona.

Namun benarkah keberadaan masker dan penggunaanya baru-baru ini muncul sejak wabah Corona? sebab jika dilacak lebih jauh, keberadaan masker sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Masker mengalami berbagai perkembangan, mulai dari bahan, model hingga penyebab penggunaanya

Di Cina masker pertama kali muncul pada masa Dinasti Yuan (1279-1368). Pada masa itu, masker di Cina berupa kerudung yang ditenun dengan sutra dan benang emas.

Berdasarkan catatan The Travelers of Marco Polo pada abad ke 13, Marco Polo menulis di masa Dinasti Yuan para pelayan yang melayani kaisar saat makan harus mengenakan sutra untuk menutup mulut dan hidung mereka. Syal sutra tersebut akan menjaga napas para pelayan agar tak mempengaruhi bau dan rasa makanan.

Pada abad ke-14, saat wabah Black Death menyebar ke Eropa mendorong munculnya penggunaan benda yang berbentuk mirip masker wajah. Pada abad ke-16, seorang dokter Perancis Charles de Lorme menemukan masker bentuk paruh dan dilengkapi dua lubang hidung pada ujung ‘paruh’. Ruang bagian dalam paruh ini diisi oleh dupa atau aneka bunga-bunga.

Masker Paruh Burung
Masker Paruh Burung

Rangkaian pakaian itu kemudian disebut setelan paruh. Masker ini kemudian berkembang menjadi simbol kematian yang menakutkan akibat wabah yang saat itu meluas. Pada abad yang sama, seorang pelukis terkenal, Leonardo da Vinci memberikan usulan perendaman kain dalam air lalu meletakkannya pada wajah untuk menyaring bahan kimia beracun yang berasal dari sistem pernapasan manusia. Metode ini sendiri masih efektif dan banyak dipakai dalam panduan keluar dari kebakaran hingga saat ini.

Hal ini dibenarkan oleh sejarawan Bonnie Triyana saat talkshow di Graha BNPB 28 Agustus lalu. Ia mengatakan masker tertua yang dapat terlacak dimulai di Eropa pada abad ke-17 yang berbentuk seperti paruh burung dan digunakan untuk menghadapi penyakit yang sedang melanda pada saat itu. ”Masker ini digunakan karena memang waktu itu ada wabah dan menghindari penyebaran penyakit dari udara. Di dalam paruhnya itu biasanya diisi sama herbs, sejenis  rempah,” ujar Bonnie.

Masker-masker pada saat itu belum seperti sekarang, Bonnie mengatakan dahulu masker dibuat dari bahan-bahan seperti wol tipis hingga bahan-bahan lain yang tersedia di zamannya. ”Maskernya itu terbuatnya dari ya seadanya bikinnya, seadanya itu misalkan dari rajutan bahan rajutan kaos kaki atau dari perban atau dari kain kasa,” kata Bonnie.

Desain masker kemudian mengalami terobosan maju pada abad ke 19. Tahun 1848, seorang penambang bernama Lewis Hassley mematenkan masker buatannya untuk melindungi para penambang.

Kemudian pada 1861, seorang ahli biologi, mikrobiologi dan kimiawan Prancis Louis Pasteur membuktikan bahwa di udara terdapat bakteri. Penemuan ini kemudian mendorong semakin banyaknya orang mulai memerhatikan desain masker modern.

Paul Berger seorang dokter Prancis mulai membuat masker dari enam lapis kain kasa. Ia menjahit masker pada kerah gaun bedah di tahun 1899. Saat menggunakannya, dokter hanya perlu membalikkan kerah untuk kemudian dipakai. Lambat laun, masker berkembang menjadi bentuk yang bebas diikat dan digantung di telinga dengan tali melingkar yang melahirkan desain masker modern.

Saat wabah pes melanda Cina Utara pada tahun 1910,
Kekaisaran Cina mengirim seorang dokter muda bernama Wu Lien-I ke wilayah ini. Pria kelahiran Penang ini memodifikasi masker yang ia lihat semasa kuliah. Bahan utamanya adalah kain kasa dan kapas, serta ditambah lapis kain lagi demi menambah kemampuan menyaring udara. Wu menggunakan masker buatannya ini untuk melindungi dirinya dari wabah pes.

Sejak itu masker buatan Wu Lien-I menjadi prototype tim medis dan dokter-dokter saat mereka memeriksa pasien.

Di abad 20 saat mulai muncul wabah penyakit menular seperti flu, dan muncul kabut asap dari industri modern, bahan dalam masker pun juga terus berkembang. Termasuk saat pandemi SARS tahun 2003 dan kabut asap tahun 2012.

Muncul istilah PM2.5, masker N95 maupun KN90 yang mampu menyaring partikel. Ketiga jenis masker ini kemudian memang menjadi populer.

Sebenarnya masker N95 awalnya ditemukan di perusahaan 3M yang merupakan singkatan dari Minnesota and Manufacturing Co. Perusahaan ini memproduksi masker N95 sejak 1967.

Yang unik ide pembuatan masker N95 berasal dari desain bra. Mengutip dari House Beautifull, prototipe masker N95 berasal dari ide Sara Little Turnbull, seorang karyawan  yang menggunakan pencetak cup bra sebagai pencetak maskernya.

Sara merupakan pekerja di pabrik 3M. Awalnya ia ditugaskan ke divisi pembungkus kado dan pita. Saat itu, perusahaan tengah memikirkan bahan bukan tenun untuk membuat pita kaku. Namun dirinya melihat potensi lain.

Awalnya ia memanfaatkan bahan itu untuk membuat cup bra yang dicetak. Di saat yang sama, Sara tengah merawat keluarganya yang sakit yang menyebabkan ia menghabiskan banyak waktu dengan dokter dan perawat yang kerap memakai masker yang diikat.

Saat itulah Sara memanfaatkan desain branya untuk membuat masker semacam itu. Akhirnya ide Sara disetujui oleh 3M dan pada 1961 masker medis ringan pertama berdasarkan desain cup bra dirilis.

Reporter: Hani Deliani

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here