etnis tionghoa miliki peran penting di Sumpah Pemuda
etnis tionghoa miliki peran penting di Sumpah Pemuda

MATA INDONESIA, JAKARTA-Pencetus Hari Sumpah Pemuda ternyata tidak hanya pemuda-pemuda asli Indonesia saja yang ambil bagian di dalamnya. Dalam kongres ke II yang dilakukan di Jl. Kramat Raya 106 pada waktu itu, ada beberapa pemuda keturunan Tionghoa yang berperan penting dalam Sumpah Pemuda. Siapa sajakah mereka?

Nama Djohan Mohammad Tjai menjadi yang pertama. Dia menjadi anggota panitia Kongres II dan ikut menandatangani rumusan Sumpah Pemuda, Djohan juga tergabung dalam Jong Islamieten Bond (Persatuan Pemuda Islam).

Kedua, Sie Kong Liong. Seorang etnis Tionghoa yang secara suka rela menyediakan rumahnya sebagai tempat pertemuan para pemuda penggerak kemerdekaan Indonesia. Jasanya sangat berharga karena mengingat resikonya yang tinggi.

Rumah Sie Kong Liong dulunya dijadikan tempat belajar para pelajar dari Stovia dan RS sejak tahun 1908. Lalu pada tahun 1927, rumah itu diberi nama Indonesische Clubhuis. Rumah yang terletak di Jalan Kramat Raya 106 itu kini menjadi Museum Sumpah Pemuda setelah diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta dan Pemda DKI Jakarta pada 1973.

Lalu ada Kwee Tiam Hong. Kwee merupakan pedagang Tionghoa yang tertarik dengan pergerakan Indonesia pada saat itu. Kwee ikut tergabung dalam anggota Jong Sumatranen Bond (Persatuan Pemuda Sumatera). Pada saat Kongres II, usianya baru 19 tahun dan masih bersekolah di Eerste Gouvernement MULO (setara dengan SMA/SMK) Batavia.

Kwee pun mengajak tiga temannya untuk aktif sebagai anggota kepanduan yaitu, Tjio Djin Kwie, Ong Kay Sing, dan Liauw Tjoan Hok. Setelah masa kemerdekaan, Kwee mengganti nama menjadi Daud Budiman.

Selain sumpah pemuda, pada Kongres II juga dinyanyikan Indonesia raya. Nah, jangan lupakan peranan Harian Sin Po (media surat kabar berbahasa Melayu-Tionghoa) karena telah memuat naskah lagu tersebut di harian mereka.

Syair Indonesia Raya karya W. R. Soepratman yang dikumandangkan pada saat Kongres II ini dimuat dan dipublikasikan di harian Sin Po Wekelijksche Editie pada 10 nov 1928.

Hal ini juga turut membangkitkan jiwa nasionalisme para etnis Tionghoa yang menganggap dirinya sebagai bagian dari Indonesia. Selain itu, karena telah dipublikasikan, lagu Indonesia Raya semakin terkenal di lingkungan pemuda penggerak kemerdekaan Indonesia.

Reporter: Tashyarani Edi Putri

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here