MATA INDONESIA, JAKARTA – Tepat 8 April 1973, dunia berduka atas kematian sosok seniman cerdas Pablo Picasso. Karya-karyanya banyak menginspirasi dan dikenang hingga saat ini.

Meninggal di usia 91 tahun, Pablo merupakan seniman yang produktif. Semasa hidupnya, ia telah menghasilkan lebih dari 20.000 karya seni dan 2.000 diantaranya adalah lukisan.

Akrab disapa Pablo Picasso, nama lengkapnya adalah Pablo Diego Jose Francisco de Paula Juan Nepomuceno Maria de los Remedios Cipriano de la Santisima Trinidad Ruiz y Picasso.

Nama yang sangat panjang ini terdiri dari nama depan (Pablo), nama keluarga ibunya (Picasso), dan beberapa nama lain untuk menghormati kerabat dan orang-orang suci.

Lahir pada 25 Oktober 1881 di Malaga, Spanyol, Pablo merupakan putra dari pasangan Josse Ruiz Blasco dan Maria Picasso. Ayahnya merupakan seorang profesor seni.

Seolah-olah memiliki darah seni yang mengalir dalam dirinya, Pablo berbakat dalam melukis sejak ia kecil, bahkan lukisan pablo kecil dapat mengimbangi ayahnya yang seorang profesor seni. Pada usia 14 tahun, Pablo menempuh pendidikan di School of Fine Arts di Barcelona, Spanyol. Dua tahun setelahnya, ia pergi ke Madrid dan menempuh pendidikan di Royal Academy.

Hingga menginjak usia 23 tahun, Pablo pindah ke kota Paris, Prancis. Disinilah ia mulai melahirkan karya-karya besarnya.

Kritikus seni menggolongkan karya Pablo dalam beberapa periode. Yang pertama adalah The Blue Period atau Periode Biru. Dalam periode ini (1901-1904), ia banyak menciptakan lukisan monokromatik bernuansa biru dan hijau. Alasan nuansa biru ini muncul dalam karyanya adalah untuk mengenang kematian sahabatnya yang juga seorang pelukis asal Catalunia, Carlos Casagemas.

Pada tahun 1904 hingga 1906, Pablo mulai berganti menggunakan warna oranye dan merah muda setelah sebelumnya kerap melukis dengan nuansa biru-hijau. Hal ini yang membuat kritikus menggolongkannya kedalam Periode Mawar atau The Rose Period.

Setahun setelahnya, Pablo menciptakan karya lukis yang berjudul “Les Demoiselles D’Avignon”. Lukisan ini menampilkan lima pelacur telanjang yang terdistorsi dengan warna biru, hijau, dan abu-abu yang mencolok dengan bentuk geometris yang tajam.

Karya ini disebut sebagai prototype atau karya pra-Kubisme. Dalam karya ini sudah tampak berbagai ciri-ciri aliran kubisme seperti distori yang radikal pada hidung, latar yang terfragmentasi dan mata yang posisinya janggal namun memberikan ekspresi artistik.

Georges Braque yang melihat lukisan itu langsung tertarik dan mulai merintis aliran kubisme bersama Pablo tahun 1907.

Namun pada tahun 1908, Pablo mulai melukis dengan gaya Neoklasik dan meninggalkan pelukis-pelukis yang mengikuti jejak dari aliran kubisme.

Sepuluh tahun kemudian, Pablo Picasso beralih lagi dari gaya Neoklasik menjadi Surealisme. Pada masa inilah ia menciptakan “Guernica”, lukisan Pablo yang paling terkenal.

Dibuat pada tahun 1937, lukisan ini bercerita tentang perang saudara yang terjadi di kota kecil Basque, Guernica, Spanyol. Karya ini dipamerkan di Paris World Fair di tahun yang sama saat pembuatannya.

Menjelang akhir hidupnya, Pablo Picasso melukis seperti kanak-kanak. Ia menganggap seni kanak-kanak sebagai rumah bagi orisinalitas dan kemurnian, jauh dari cemaran pretensi.

Reporter: Andhika Ilham Ramadhan

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here